Menyiapkan Mental Anak Masuk SD Sejak Dini

DSCF1885Tahun ajaran baru hampir menjelang. Nah, kalau selama ini buah hati hanya “sekolah” 3 atau 4 kali seminggu di kelompok bermain atau TK, kini saatnya ia harus masuk sekolah sungguhan. Apalagi TK dan kelompok bermain, sebetulnya tak wajib dilalui anak karena memang belum waktunya prestasi si kecil dipacu. Sebab itu pula,program utama di TK atau kelompok bermain lebih mengacu pada pengembangan aspek sosialisasi,kognitif, motorik, bahasa, serta afeksi. Bukan prestasinya. Maka cara pembelajarannya pun dilakukan dengan bermain. Nah, karena sifatnya belajar sambil bermain inilah maka pembelajaran itu sebenarnya dapat dilakukan oleh orang tua di rumah. Dengan kata lain, anak tak wajib masuk TK atau kelompok bermain.

Lain halnya dengan bangku SD, anak sudah tak lagi banyak bermain seperti halnya di TK atau kelompok bermain. Di sini mulai ditekankan segi prestasi. Tak heran jika anak berlomba-lomba menjadi anak pintar, memperoleh nilai baik atau berlomba jadi juara kelas. Anak pun sudah memiliki kewajiban untuk masuk dan mengikuti pelajaran setiap hari. Jam pelajarannya pun tak lagi 2 atau 2,5 jam, melainkan sudah bertambah jadi 3 jam hingga setengah hari. Bukan itu saja. Anak SD pun dituntut mematuhi aturan-aturan yang cukup banyak hingga ia tak bisa lagi berbuat semaunya seperti kala di TK.

MASUKKAN TK DULU

Masuk SD juga berarti anak masuk lingkungan baru di mana mereka harus bisa berinteraksi dengan orang lain yang belum dikenalnya, menyesuaikan diri dengan suasana serta ruangan dan alam yang sangat berbeda dari apa yang ia ketahui sebelumnya. Tentu saja, si kecil tak bisa “dilepas” begitu saja memasuki dunia yang masih serba asing ini. Ia harus disiapkan lebih dulu. Menurut Alma Nadhira, Psi, psikolog dari RS Fatmawati Jakarta, persiapan itu tak beda jauh dengan ketika menyiapkannya masuk kelompok bermain atau TK. “Sama saja, kok. Dari yang tadinya tak pernah sekolah, lalu harus pindah dari rumah ke lingkungan TK.” Memang, kalau si kecil sebelumnya sudah pernah duduk di TK atau kelompok bermain, ia akan lebih mudah menyesuaikan diri saat harus masuk SD. Minimal, anak tak “kaget” dan panik saat menemui lingkungan baru. Ia sudah bisa dan mampu bersosialisasi, terbiasa dengan aturan-aturan, bisa memenuhi tanggung jawab yang diberikan orang lain (guru) kepadanya, serta terbiasa menerima instruksi dari orang lain selain orang tuanya.

Itu sebab, saran Dhira, sapaan akrabnya “sekalipun anak masih balita dan sifatnya tak wajib, kalau memang kita mampu dan anaknya mau, tak ada salahnya memasukkannya ke kelompok bermain atau TK.” Tapi, jangan pernah memaksanya. “Kalau dipaksa, hanya akan menimbulkan trauma pada anak.” Akibatnya, kala ia menginjak usia wajib sekolah (SD), malah enggak mau sekolah. Repot, kan?

GAMBARAN MENYENANGKAN

Kendati balita kita tak pernah masuk TK atau kelompok bermain, bukan berarti kita tak bisa menyiapkannya masuk SD, lo. Syaratnya tetap sama, yaitu jangan memaksa anak. “Maksudnya, orang tua memaksa si anak belajar ini-itu karena khawatir nanti di SD anaknya tak tahu apa-apa.” Kalau pemaksaan yang dilakukan, maka anak akan mendapat gambaran, sekolah ternyata tak enak. Ia akan berpikir, “Belum sekolah saja, aku sudah harus ini dan itu. Tak boleh main sama Mama, tak boleh nonton TV. Wah, apalagi kalau nanti sudah sekolah.”

Jadi, yang harus dilakukan adalah memberinya gambaran dan pengertian pada anak tentang arti sekolah. Misal, ia akan bertemu teman-teman baru yang tak sama kemauan atau sifatnya dengan diri si anak, ada aturan-aturan yang harus dipatuhinya, mulai belajar bertanggung jawab dan harus mengikuti pelajaran di sekolah setiap hari dari jam 07.00-10.00, dan lainnya. Beri ia informasi yang menyenangkan mengenai sekolah di SD, sebagai pembentukan persepsi awal anak terhadap SD. “Nak, kalau kamu telah masuk SD kamu akan pandai menulis, membaca, dan berhitung, lo. Kamu juga akan punya banyak teman baru. Asyik, deh. Kamu pun nanti akan pakai seragam baru. Itu, lo, seperti kepunyaan kakak,” misal.

Jangan lupa, jelaskan pula kenapa ia harus sekolah, apa tujuan sekolah, dan apa saja yang akan didapat di sekolah tersebut.”Dengan sekolah kamu bisa mencapai cita-citamu. Kan, katanya kamu mau jadi pilot. Nah, kalau kamu sekolah dan rajin belajar, pasti bisa jadi pilot,” misal. Dengan demikian, anak akan mengerti, sekolah penting dan amat bermanfaat baginya di kemudian hari. “Kalau aku enggak sekolah, aku enggak bisa baca. Kalau aku enggak bisa baca, aku enggak akan menjadi pilot. Kalau begitu, aku harus sekolah,” misal.

Agar anak bisa memahami secara konkret bagaimana nantinya kala ia duduk di bangku SD, lakukan dengan cara bermain peran. Misal, ibu jadi guru dan anak jadi murid atau sebaliknya. “Malah kalau bisa, dalam bermain peran itu, tempat dan suasana ditata sedemikian rupa seperti di SD sungguhan. Jadi, sebelum memasuki kelas harus baris lebih dulu, lalu membaca doa, belajar menulis, membaca, mengerjakan soal di depan kelas, memberikan pekerjaan rumah kepada murid,” terang Dhira. Dengan cara demikian, kita telah menyiapkan mental anak untuk siap sekolah.

Nah, dengan persepsi awal yang menyenangkan tentang sekolah, anak pun akan tertarik untuk sekolah. Alangkah baiknya pula, pesan Dhira, orang tua sudah mulai memasukkan pengertian ini jauh-jauh hari sebelumnya. Paling tidak, setahun sebelum anak masuk SD. Hingga mental anak untuk sekolah pun telah kuat dan siap. “Jadi, kala tiba gilirannya masuk sekolah, tak ada kesulitan lagi. Malah anak akan senang dan bahkan bisa jadi dia sendirilah yang akan meminta untuk cepat-cepat masuk SD, sekalipun mungkin di awal masuk ia masih minta ditemani oleh ibu, ayah, atau pengasuhnya.”

MALAH ANTUSIAS

Akan lebih baik lagi jika sebelum resmi terdatar sebagai siswa di SD,anak diperbolehkan mengikuti pelajaran selama seminggu, misal. “Orang tua bisa lebih awal mencari SD yang membolehkan calon siswanya melakukan uji coba.” Ini dimaksudkan sebagai masa orientasi anak pada sekolahnya yang baru, mengenal lingkungan sekolah baru, mengenal kelas, suasana sekolah,hingga mengenal guru-gurunya yang baru. “Barulah setelah anak merasa kerasan, kita daftarkan sebagai siswa.” Dengan begitu anak pun tak kaget lagi.

Jika anak tak disiapkan lebih dulu saat akan masuk SD dan cuma dibangkitkan keinginannya oleh orang tua tentangpentingnya sekolah untuk dirinya, anak akan selalu dihantui ketakutan. Misal, akankah ia mendapat teman baru yang menyenangkan di sekolah? Atau, bagaimana kalau mau pipis, adakah yang menemani, dan lainnya. “Semua itu bisa terjadi karena ia belum mampu atau terbiasa bersosialisasi dan mandiri.”

Kalau itu yang terjadi, jangan heran jika anak jadi mogok sekolah atau tak mau sama sekali masuk sekolah. Kalaupun akhirnya berangkat sekolah, sikapnya malas-malasan karena ia berpikir, “Ah, yang ingin sekolah, kan, Bunda dan Ayah. Aku, sih, tidak.” Karena pada awalnya merasa terpaksa, bukannya tak mungkin bakal muncul dampak buruk. Ia jadi siswa yang malas, tak pernah mau tahu tentang pelajaran-pelajarannya. Beda jika ia telah disiapkan dengan baik. Ada kemungkinan ia bisa melewati minggu pertama sekolah dengan baik dan untuk seterusnya ia tak takut lagi masuk sekolah. “Bahkan ia jadi antusias tiap kali harus berangkat sekolah dan tak mau lagi ditemani ayah, ibu, atau pengasuhnya. Ia juga jadi rajin belajar dan aktif di sekolah,” kata Dhira.

PERAN SERTA GURU

Yang tak kalah penting dalam menentukan anak mau sekolah atau tidak, adalah peran serta guru. “Sekalipun anak sudah disiapkan sejak dini tapi kalau gurunya enggak welcome dan terkesan menakutkan bagi anak, bisa dipastikan anak akan menolak untuk sekolah atau enggak kerasan di sekolah,” tandas Dhira. “Karena itulah, mengapa seorang guru SD, khususnya kelas satu, harus tahu betul kebutuhan anak, sifat anak, dan memahami bahwa tiap anak tak bisa disamaratakan sifat dan kepribadiannya.”
Menurut Dhira, anak yang baru menginjak kelas 1 SD, sifat-sifat TK-nya masih melekat kuat. “Makanya, guru kelas 1 SD sebaiknya mengenal sifat dan kepribadian anak secara perorangan. Karena anak, toh, punya keunikan masing-masing. Kalau tidak, salah-salah guru malah akan membunuh minat dan semangat anak untuk sekolah.”
Walaupun sifat-sifat TK masih melekat pada diri anak, cara mengajar guru SD tetap tak boleh sama dengan guru TK “Walau bagimanapun, anak sudah harus mulai dikenalkan dengan aturan-aturan serta kewajiban yang berbeda dari TK. Misal, reward and punishment harus sudah mulai dikenalkan pada anak. Kalau ia tak bikin PR, ya, ditambah PR-nya. Kalau ia ternyata mau mengerjakan PR, ya, harus dapat nilai bagus.” Tentunya si guru harus selalu menjelaskan mengapa ia dihukum.

Alangkah baiknya jika guru dan orang tua dapat menjalin kerja sama atau hubungan baik, hingga akan ada timbal-balik masukan bagi kedua belah pihak. “Orang tua dapat memantau perkembangan anaknya di sekolah dan guru pun bisa tahu bagaimana orang tua mendidik dan membimbing anak di rumah hingga pendidikan bagi si anak tak bertentangan.” Jadi, sekalipun persiapan awal sebelum anak masuk SD sepenuhnya ada di tangan orang tua, setelah anak menjadi siswa,tanggung jawab ada di antara orang tua dan guru.

BACA GELAGAT

Bagaimana kalau ternyata anak belum siap masuk SD? Jangan dipaksa. Pun jika menurut hitungan usia ia sudah harus masuk SD, tapi belum siap mental, ya, tetap tak boleh dipaksa. “Lebih baik, masukkan ke TK saja. Atau orang tua menyiapkan si anakdi rumah dengan cara menumbuhkan minat sekolah anak serta membangun kepercayaan diri anak supaya berani pergi sekolah. Dengan bahasa lain, kita tumbuhkan dulu kematangan sekolahnya. “Sebab, jika ia belum siap dan dipaksa, ia bisa menjadi minder, merasa terisolasi atau malah trauma. Yang paling parah, anak akan mengalami fobia sekolah.

Namun di sisi lain, jangan dulu buru-buru memprediksi anak belum siap mental untuk sekolah hanya karena melihat ia tak mau sekolah di SD. Bisa saja karena ia takut atau malu. “Nah,pandai-pandainya kita membaca gelagat ini. Soalnya, kecemasan-kecemasan seperti itu lumrah terjadi pada anak. Meskipun banyak juga anak yang percaya dirinya tinggi.” Untuk itu, orang tua harus bisa membujuk anak.”Katanya kamu ingin jadi pilot, kok, enggak mau sekolah. Ada apa? Malu? Atau takut?”, misal. Kita juga bisa lakukan bargaining dengan anak, misal, berjanji menemaninya. “Oke, deh, sekarang Bunda temani kamu sekolah sampai pulang sekolah. Tapi minggu depan kamu sudah harus sekolah sendiri, ya? Bunda hanya mengantar dan menjemput saja, tidak menunggu,” misal.

Nah, sepulang sekolah orang tua bisa mengajak anak bercerita mengenai pengalamannya di sekolah. Dengan begitu anak akan merasa selalu diperhatikan dan disayang oleh orang tuanya hingga rasa percaya dirinya untuk sekolah makin tinggi. Orang tua juga bisa memberitahu pada calon gurunyabahwa anaknya itu pemalu, misal. Hingga nanti guru di kelas akan membuat suasana yang hangat dan akrab bagi anak. “Kalau anak telah merasa nyaman di sekolah pasti ia akan keranjingan berangkat sekolah. Malah ada beberapa kasus, anak sampai lupa hari. Sekalipun hari Minggu, ia tetap meminta ayah dan ibunya untuk mengantarnya sekolah.”

Itulah beberapa cara mempersiapkan mental anak sebelum masuk sekolah SD. semoga bermanfaat.

sumber : http://www.mail-archive.com

————–

Kami dari Bimbingan Belajar Batasa salahsatu Bimbingan Belajar yang mengedepankan potensi anak membuka kelas persiapan masuk SD. Program ini kami rancang buat anak-anak yang akan masuk SD. adapun materi yang akan dibahas dalam bimbingan belajar ini diantaranya adalah:

  • Aspek Aqidah Akhlak
  • Aspek Agama, Sosial, Emosional dan Kemandirian anak
  • Aspek Fisik-Motorik
  • Aspek Kognitif
  • Aspek Bahasa

Selain itu materi yang ada dikelas 1 SD akan kami bahas juga, sehingga setelah masuk di kelas 1 anak-anak sudah mengetahui lebih dulu materi yang diajarkan di kelas 1. Hal ini akan menambah rasa percaya diri anak yang bersangkutan.

Bagi Ibu/Bapak yang berminat, silahkan menghubungi Call Center Batasa di alamat: Jl. Pluto Utara No.1 Margahayu Raya Kota Bandung, 40286. Phone: (022) 7504797 – 085 223 668 829.

Broshur Bimbel Batasa Depan

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s