Saat Biaya Hidup di Batam Tertinggi di Indonesia

Pulau Batam merupakan surga pencari kerja. Batam Kota Investasi. Batam juga menjadi menjadi kawasan percontohan kawasan Ekonomi khusus di Indonesia.Dibalik semua itu, Batam juga menjadi kota dengan biaya hidup tertinggi setelah Irian Jaya. Hidup di Batam lebih keras dibanding, Jakarta, Medan, Surabaya, apalagi Yogyakarta.

Ribuan pekerja makan indomie pengganti nasi. Hal itu untuk menghemat biaya hidup di Batam. Masihkan Batam menarik untuk dijadikan kota bertahan untuk mengadu nasib?

Secara giografis, Batam yang terletak berdekatan dengan Singapura dan Malaysia memiliki keunggulan kompetitif dibanding dengan daerah lain. Namun, jauhnya jarak dengan provinsi lain di Indonesia membuat barang kebutuhan hidup di kota ini menjadi mahal. Pemerintah daerah pun sulit mengontrol kenaikan harga. Sehingga, harga kebutuhan seperti sembako, makanan dan minuman menjadi mahal setelah sampai di Batam.

Harga barang konsumsi mulai melambung sejak November 2007. Faktor yang mempengaruhi kenaikan harga sembako dan produk pabrikan disebabkan naiknya nilai tukar kurs dollar AS, tingginya harga minyak dunia dan naiknya harga crude palm oil (CPO).Selain itu, terjadi gagal panen di Pulau Jawa. Effeknya juga dirasakan Batam yang kebutuhan barang konsumsi dipasok dari Jawa. Sehingga harga beras, gula, sayur-sayuran langsung melambung naik.

Kenaikan harga ini langsung dirasakan Ibu-ibu rumah tangga. Maiyanti, ibu rumah tangga di Perumahan Greenland, Batam Centre mengaku, kenaikan harga mulai dirasakan sejak November 2007.Akibat kenaikan tersebut, porsi belanja terpaksa harus dikurangi.

Dia menyebutkan dulu harga beras per karung cuma Rp130 ribu, kini sudah menjadi Rp170 ribu.”Ada kenaikan sampai 30 persen.Belanja bulanan rutin untuk dapur yang semula hanya Rp450 ribu, kini menjadi Rp600 ribu per bulan,” kata Maiyanti kepada Batam Pos, di Batam Centre, Minggu (13/1).

Menurut dia, harga barang konsumsi setiap hari selalu saja berubah. Bahkan tak jarang, ibu-ibu rumah tangga bertengkar dengan penjual yang selalu menaikan harga.

“Jika dulu uang Rp50 ribu sangat berarti saat belanja di warung, kini tak berarti lagi. Bahkan kita harus nombok lagi untuk mencukupi keperluan di dapur,” ujar ibu dua anak ini.

Karena pendapatan suami terbatas, Maiyanti harus melakukan penghematan saat belanja di warung maupun belanja bulanan di Pasar Jodoh.

Pengakuan yang sama juga dikatakan Muharani, warga Bengkong Harapan. Menurutnya kehidupan di Batam saat ini memang sulit. Bayangkan, dulu satu kilo ikan benggol Rp5 ribu, kini sudah menjadi Rp16 ribu. Minyak goreng dari Rp6 ribu per kilo, naik menjadi Rp9 ribu.

“Adanya kenaikan itu, selera makan sudah berubah. Dulu sering makan sayur, kini mulai dikurangi,” imbuhnya.Menurutnya, situasi Batam ini sangat menyenangkan sekitar tahun 2002 sampai 2003. Harga barang masih murah. Sekarang kondisi sudah berbeda.

Azizah, salah satu pekerja di kawasan Industri Tunas Batam Centre mengaku, besarnya biaya hidup di Batam memaksanya harus makan indomie di akhir bulan. Karena untuk membeli nasi dan sayur, keuangan sudah tak mencukupi. “Pokoknya jika sudah tanggal 15, siap-siap mengencangkan ikat pinggang.Indomie sudah dipersiapkan untuk menunggu gajian,” ujarnya sambil tersenyum malu.

Jika sudah akhir bulan, tak jarang meminjam uang kepada teman-teman.”Ya, gali lobang tutup lobang saja, mas.Abis gaji sebesar UMK tak mencukupi dengan biaya hidup di Batam,” ungkapnya.

Anto dari Aliansi Pekerja Batam menyatakan, idealnya upah di Batam sesuai dengan kebutuhan hidup layak (KHL) Rp1.150.000. Dengan Upah Minimum Kota (UMK) Rp960 ribu, maka nasib pekerja masih memprihatinkan. “Pekerja kurang sejahtera. Padahal mereka lah yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi di Batam,” katanya.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Batam Ahmad Hijazi mengakui tingginya biaya hidup di Batam akibat kenaikan harga.

Kenaikan itu menurutnya bukan hanya terjadi di Batam. Seluruh daerah di Indonesia mengalami hal yang sama. Situasi ini karena pengaruh global seperti naiknya harga minyak dunia, kenaikan CPO, tingginya nilai tukar dollar AS dan terjadi paceklik di Jawa.

Pemerintah dalam hal ini tak bisa berbuat banyak untuk menekan harga. Karena dari daerah penghasil sudah menaikkan harga barang.Sehingga distributor di Batam juga harus menaikkan harga untuk menutupi kerugian.

Pemerintah, jelasnya, hanya bisa melakukan kontrol harga ke distributor dan agen tunggal. “Jangan sampai mereka menaikkan harga di luar batas. Ini yang selalu kita pantau,” ungkap Hijazi.

Diprediksikan harga barang sembako ini akan mengalami penurunan sekitar Maret. Dikarenakan daerah penghasil di Jawa dan Sumatera mulai panen.

Ditambah dengan sudah berlakunya perdagangan bebas di Batam. Sehingga harha beras dan gula yang merupakan barang impor tak dikenakan pajak. “Sehingga harga beras bisa kembali ke harga Rp4000-an per kilogram. Sedangkan gula bisa Rp5.000 per kilogram,” ujarnya optimis.

Hijazi mengatakan, FTZ tidak sertamerta membuat harga barang konsumsi pabrikan seperti susu, sampho, odol gigi, dan produk lainnya menjadi murah. Hanya produk impor saja yang bisa murah. Pekerja di Batam hanya bisa menikmati murahnya beras dan gula.***

Beli Ikan Tak Lagi per Kilo

Kenaikan harga sembako yang terjadi di Batam cukup menyulitkan ibu rumah tangga (IRT) mengatur keuangan.Apalagi pendapatan suami masih tetap, sedangkan biaya justru bertambah pengeluarannya.Bagaimana cara ibu-ibu menyesuaikan kenaikan barang tersebut?

Yanti, ibu rumah tangga dengan dua anak ini mulanya enggan menceritakan mengenai kondisi keuangan rumah tangganya. Namun, dengan sedikit malu, ibu rumah tangga dengan penghasilan suami per bulan Rp4 juta ini mau juga menjelaskan cara mengatur keuangan.

Menurut Yanti, yang tinggal di salah satu perumahan di Batam Centre, kenaikan harga sembako, sayur, dan barang perlengkapan seperti odol, sabun dan lain-lainnya terasa sejak November 2007.

Akibat kenaikan tersebut, jumlah anggaran untuk belanja rutin dapur pun jadi membengkak. Biasanya dalam satu bulan Yanti mengeluarkan Rp4.000-5.000 untuk kebutuhan mendasar dapur. Di luar membeli sayur-sayuran di sekitar warung dekat rumah.

Kini, sejak kenaikan harga, biaya per bulan yang harus dikeluarkan mencapai Rp500-600 ribu untuk kebutuhan dapur. Belum lagi untuk biaya belanja dua orang anaknya yang kini duduk di bangku SMP dan SMA. Untuk ke dua orang anaknya itu, per bulan harus mengeluarkan biaya tetap Rp850 ribu.Dengan rincian Rp 350 ribu untuk anak yang masih SMP dan Rp500 ribu untuk SMA.

Diceritakan Yanti, sejak kenaikan harga menjelang Idul Adha, Yanti harus memaksa sehemat mungkin untuk menjaga dapur agar tetap ngepul.

Dia mencontohkan, dulu harga ikan bonggol Rp6.000, kini sudah menjadi Rp16.000 ribu per kilo. Harga beras per karung Rp125 ribu, sekarang menjadi Rp165-170 ribu. Harga sayur kangkung dari Rp5.000 per kilogram jadi Rp 7.000. Minyak goreng dari Rp6.000 naik menjadi Rp9.000.”Saya hanya membeli ikan seharga Rp 6.000. Berarti sekitar 4 ons, lah.Tujuannya untuk menghemat keuangan. Bukan hanya membeli ikan, membeli sayur pun sudah pakai ons.

Pokoknya, kata Yanti, jika dulu makan ikan dengan lahap, kini jumlahnya sudah berkurang. “Kita juga memilih ikan yang harganya paling murah. Inilah cara untuk menghemat keuangan,” ujar Yanti.

Jangan ditanya mengenai beli baju baru sebulan sekali, Yanti menegaskan, dia membelikan baju untuk anaknya hanya dua kali dalam setahun. Apalagi untuk membeli pakaian sendiri dan suami, hampir dikatakan jarang.

Sinta, ibu satu anak tinggal di Tiban Kampung, juga mengeluhkan naiknya harga sembako. Menurut Sinta, situasi sekarang ini lebih parah dibandingkan dengan tahun 2003. Dulu dengan uang Rp50 ribu, sudah bisa makan enak bersama suami.

Dengan penghasilan suami yang pas-pasan, Sinta dituntut untuk mengelola keuangan dengan efiesien.Barang yang dibeli pun, harus untuk kebuhan sehar-hari.

“Pokoknya harus hemat. Jika tidak, bisa ngebon ke warung,” katanya.

Dalam satu bulan, Sinta mengeluarkan uang belanja dapur sampai Rp 400 ribu. Belum biaya air, listrik dan susu anak.

Saking mahalnya harga barang, kata Sinta, ibu-ibu yang belanja di warung setiap hari selalu mengeluh. Bahkan presiden pun sampai di salahkan karena tak bisa menjaga harga untuk stabil.

Sedangkan menurut Setyasih Priherlina yang juga anggota DPRD Kota Batam, kenaikan harga saat ini memang memberatkan. Sementara pendapatan masyarakat masih tetap.

Lina, panggilan akrap politisi PAN ini mengatur keuangan secara khusus. “Untuk urusan dapur, saya punya prioritas kebutuhan selama satu bulan ke depan. Dan anggaran tersebut tak diganggu gugat,” ujarnya.

Lina mengharapkan pemerintah harus memfungsikan Dinas Perdagangan dan Industri untuk mengendalikan harga. Selama ini, belum ada niat tulus untuk mengendalikan stabilitas harga.”Semua masih diserahkan ke mekanisme pasar. Padahal, pendapatan masyarakat sulit untuk mengikuti lajunya perubahan kebutuhan,” ujarnya.

Menurutnya, di Batam terjadi sistem liberalisasi ekonomi. Sehingga masyarakat kecil sulit mengikuti perubahan.

Untuk menyesuaikan kenaikan harga ini, lanjut Lina, semua pemakaian dipangkas. Lina yang memiliki dua mobil, yang dulu menggunakan pertamax, kini menggunakan premium.

Sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari, Lina menganggarkan Rp600 ribu per bulan. Belum untuk biaya pulsa, air, listrik, sekolah anak-anak dan komunikasi konstetuen. “Jika, doku kurang, saya bisa memangkas sampai separuh,” ujar Lina.***

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Batam Ahmad Hijazi menyatakan, terjadinya kenaikan harga untuk sejumlah komoditi sayur dan makanan bukan hanya terjadi di Batam. Seluruh daerah di Indonesia mengalami hal yang sama.

Kenaikan barang produksi dan konsumsi dikarenakan naiknya harga minyak dunia, kenaikan CPO, tingginya nilai tukar dollar AS dan terjadi paceklik di Jawa.

“Pemerintah dalam hal ini tak bisa berbuat banyak untuk menekan harga. Karena dari daerah penghasil sudah menaikkan harga barang.Sehingga distributor di Batam juga harus menaikkan harga untuk menutupi kerugian,” ujar Hijazi.

Disperindag, jelasnya, hanya bisa melakukan kontrol harga ke distributor, agen tunggal, dan mengawasi harga di pasar jangan sampai terlalu tinggi. “Harga di pasar selalu kita pantau.Jangan sampai mereka menaikkan harga di luar batas,” ungkap Hijazi.

Dia memprediksikan harga barang sembako ini akan mengalami penurunan sekitar Maret. Dikarenakan daerah penghasil di Jawa dan Sumatera mulai panen.

Ditambah dengan sudah berlakunya perdagangan bebas di Batam. Sehingga harha beras dan gula yang merupakan barang impor tak dikenakan pajak. “Sehingga harga beras bisa kembali ke harga Rp4000-an per kilogram. Sedangkan gula bisa Rp5.000 per kilogram,” ujarnya optimis.

Hijazi mengatakan, FTZ tidak sertamerta membuat harga barang konsumsi pabrikan seperti susu, sampho, odol gigi, dan produk lainnya menjadi murah. Hanya produk impor saja yang bisa murah. Pekerja di Batam hanya bisa menikmati murahnya beras dan gula.

Kendati harga mulai naik, pertumbuhan ekonomi di Batam tetap tertinggi di Indonesia. Sayangnya, tingginya pertumbuhan ekonomi tidak memberikan effek yang baik untuk kesejahteraan masyarakat Batam secara menyeluruh.

hal ini terjadi, disebabkan, pertumbuhan ekonomi Batam dipengaruhi oleh industri perkapalan, offshore, dan industri yang merupakan penanaman modal asing.

”Karena industri perkapalan Penanaman Modal Asing (PMA), aliran keuangan di bidang itu banyak mengalir ke luar negeri. Batam kurang menikmati dana tersebut, kecuali hanya orang tertentu,” ujarnya.

Lain halnya jika industri yang berasal dari dalam negeri seperti perhotelan, pariwisata, dan perdagangan lainnya. Jika sektor ini membaik, maka akan memberikan efek yang sangat besar bagi kesejahteraan masyarakat Batam. “Sebab, mereka bisa langsung terlibat di dalamnya,” jelas Hijazi.

Dari dulu, lanjutnya, Batam diciptakan tempat industri berteknologi tinggi yang berasal dari negara maju.***

Kenaikan UMK Tak Lagi Berarti

Setiap akhir tahun, harga beberapa komodoti kebutuhan hidup dipastikan naik mengikuti kenaikan Upah Minimum Kota (UMK) yang baru saja naik. Sehingga, kenaikan UMK tak lagi berarti dan tak menolong buruh dari himpitan ekonomi.

Angin malam berhembus ringan menyelimuti malam. Jarum jum dinding menunjukkan pukul 21.30 WIB. Wajah Topan (23) terlihat kusut, rambutnya pun acak-acakan. Bajunya juga tampak kumal.Maklum, dia saat baru saja pulang dari tempat kerja. Topan, sehari-harinya bekerja sebagai karyawan di perusahaan penghasil roti ternama di Batam centre.

Pendapatan Topan per bulan sebagai digaji Rp1.100.000. Walaupun di atas UMK Batam sebesar Rp960 ribu, namun Topan masih merasakan panghasilannya kurang mencukupi kebutuhan biaya hidup di Batam yang tertinggi di Indonesia. Batam berada diurutan ke dua setelah Irian Jaya.

Pengeluaran rutin Topan sebagai anak kos, yang jelas membayar kos per bulan Rp350 ribu. Biaya dua kali makan satu hari Rp600.000. Dan biaya transportasi sebesar Rp 200.000.Berarti gaji Topan yang tersisa cuma Rp 50.000.Belum lagi untuk biaya pulsa dan keperluan dandan agar terlihat tampan.

Tak ayal, gaji yang di dapat masih kurang. Diakhir bulan, Topan sudah mulai memasak indomie untuk menahan lapar.

“Tanggal 21 udah mulai cari pinjaman, Mas. Entar, kalau udah gajian langsung dibayarkan ke teman,” aku pemuda lajang yang berbadan kekar tersebut.

Waktu kerja topan pergi pagi hari dan pulang malam hari, membuatnya jarang berada di kos pada siang hari. Karena sering di luar kos, biaya menjadi bertambah. “Memang hidup di Batam membutuhkan biaya besar. Jauh lebih besar dari hidup di Pekanbaru,” katanya.

Jangan tanya soal tabungan. Selama dua tahun bekerja di Batam, Topan belum memiliki tabungan. “Bagaimana untuk menabung, makan aja sulit,” ujarnya sambil ketawa.

Namun dengan situasi ekonomi yang kian sulit, Topan masih betah berada di Batam. Dengan harapan, suatu saat nanti, biaya hidup di Batam kembali murah seiiring dengan dijadikannya Batam kawasan perdagangan bebas.

“Mudah-mudahan dengan FTZ, Batam kembali jaya,” harapnya.

Sedangkan dari pengakuan Azizah yang bekerja di kawasan Tunas Industri, Batam Centre, gaji dari perusahaan masih sebesar UMK tak banyak menolong. Walaupun sudah naik dari Rp860.000 menjadi Rp960.000, karena harga barang naik, maka nilainya tambahan Rp100.000 kurang berarti.

“Kita ke Batam ini hanya untuk bekerja. Kan malu di kampung jadi pengangguran. Walaupun susah di Batam, harus dijalani,” ujar Azizah yang sehari-harinya tinggal di Bengkong.

Menurut Azizah, kebutuhan sebagai wanita sangat banyak dibanding pria. Seharusnnya UMK Batam itu sesuai dengan KHL Rp1.150.000. “Jika UMK sama dengan KHL, kita bisa bernafas. UMK sekarang tak cukup membantu, karena di bawah KHL,” ujar dara manis asal Sumatera Barat itu.

Walaupun ditambah dengan penghasilan lembur, tetap saja, dari pengakuan Azizah, pekerja wanita yang digaji dengan UMK masih kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup laik di Batam.

Pemerintah, lanjutnya, mestinya harus menyediakan transportasi massal dan rumah susun murah. Karena biaya transportasi dan sewa kos sudah menguras gaji.
“Kita minta pemerintah berpihak ke buruh dengan membangun rumah susun murah,” harapnya.

Sudah menjadi kebiasaan, katanya, diakhir bulan, meminjam dengan teman yang memiliki uang sisa. “Anak PT (buruh pabrik)sudah biasa dengan, pinjam bulan ini, dan diganti bulan depan. Ya, gali lobang tutup lobang aja kerjanya,” katanya.

Terkadang, jika sudah tak ada yang meminjamkan uang, terpaksa menghubungi keluarga di Padang untuk ditransfer uang. “Dari pada kelaparan, lebih baik minta sama orang tua,” ujarnya manja.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kepri, Abdullah Gosse menyatakan, berapapun upah yang dibayar pengusaha, jika pemerintah tak bisa menekan KHL, maka UMK tak akan ada artinya.

“Pemerintah harus bisa menekan komponen tertinggi KHL seperti sewa kos, dan transportasi.Ini yang harus dijaga jangan sampai mahal,” ujar Gosse. Jika setiap tahun terjadi kenaikan upah, lanjutnya, akan memberatkan pengusaha. (robby patria, robbypatria.blogspot.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s