KECIL-KECIL CABE RAWIT

Melihat kemampuan Anak-Anak Indonesia berprestasi ini tentu akan membuat kita kembali optimis, bahwa generasi yang akan datang akan semakin lebih baik dari generasi sekarang. Talenta para tamu cilik Kick Andy ini telah mereka dapatkan di usia yang amat belia bahkan berprestasi. Pendamping sekaligus penyambung lidah bagi host Kick Andy kali ini pun juga seorang anak berbakat, Amel Carla.

Jovidia Laviosa dan Ahmad Raihan Ash-Shiddiqy atau kerap dipanggil Raihan – ini adalah para animator muda kategori Sekolah Dasar yang telah berhasil menyisihkan 352 peserta Indonesia ICT Awards (Inaicta) 2011 lalu. Jovi, bocah berusia 9 tahun yang punya hobi bermain komputer dan membuat gambar animasi ini, dinobatkan sebagai juara pertama dengan karya animasi berdurasi 4 menit yang diberi judul “Anak Sehat
Makan Buah Lokal”. Sementara Raihan yang bercita-cita ingin menjadi animator terkenal ini bermimpi bisa membuat film animasi yang mendidik. Raihan dengan karya animasinya yang berjudul “Sadar Gempa Buat Temanku yang Tunarungu dan Tunanetra” ini mampu membuktikan dirinya sebagai
 animator muda yang memiliki kepedulian social, dan telah mendapatkan penghargaan terbaik dalam kompetisi tersebut.

I Wayan Dian Anindya Bhaswara, bocah usia sebelas tahun asal Bali ini memiliki kemampuan mendongeng layaknya orang dewasa. Dengan kemampuannya mendongeng seputar cerita binatang atau fabel inilah, ia menorehkan prestasinya di sejumlah kejuaraan. Tak hanya mendongeng, siswa sekolah dasar kelas enam ini juga piawai mendalang. Mendalang dan berdongeng nampak tidaklah sulit dilakoni Anindya yang sudah mengenal seni sejak usia dini ini. Dari sang ayahlah, I Ketut Sudiana – ia mewarisi kemampuannya untuk mendongeng. Tetapi kedua orangtuanya-lah yang melatih Anindya hingga ia berprestasi seperti sekarang.

Arya Cahya Mulyana Sugianto, putra pasangan Agus Sugianto dengan Tri Yuli Mulyanti asal Desa Bunder, Pademawu, Pamekasan Jawa Timur ini masih berusia enam tahun. Meski masih belia, bocah ini berhasil mendaki puluhan gunung di Indonesia. Kini ia tercatat sebagai pendaki gunung termuda di Indonesia. Kedelapan gunung yang telah berhasil ditaklukkan yaitu, Gunung Sundoro, Cermai, Slamet, Sumbing, Lawu, Arjuno, Belerang, dan Rinjani. Pendakian 10 gunung yang dilakukan Arya berakhir di Gunung Mahameru, Jawa Timur pada tanggal 17 Agustus 2011 lalu, sebagai bentuk Arya memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-66. Dalam waktu dekat, Arya berencana akan mendaki Gunung Kilimanjaru, Afrika.

Dari Pamekasan kita ke Karawang, ada seorang bocah berusia 3,5 tahun Amira Lubna. Anak kedua dari pasangan Rahmadi Suryomurti dan Ina Sumarlina ini, adalah sosok bocah pemberani. Ia belajar berenang saat usianya masih satu setengah tahun. Kendati umurnya masih anak-anak dan ukuran tubuhnya terbilang kecil di bandingkan dengan teman-temannya di klub renang, namun pada akhir Oktober 2011 lalu, Amira berhasil menyabet gelar sebagai perenang favorit pada Kejuaraan Renang antar perkumpulan se Jawa Barat yang di gelar di Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Serta dinobatkan sebagai atlet termuda pada kejuaraan renang se-tiga Provinsi yakni Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.

Satu lagi anak bertalenta asal Kota Solo, Jawa Tengah. Sasangka Pramudita Hutama, atau biasa dipanggil Tama. Ia memiliki kemampuan yang tak banyak dimiliki, oleh anak-anak seusianya. Di usianya yang baru tiga tahun, Tama sudah mahir mainkan wayang, meski dalam pakeliran kecil. Lahir dari ke dua orang tua yang bergelut di bidang seni tradisi Jawa, yaitu karawitan dan tari. Hal itulah menjadikan Tama tertarik pada wayang sejak umurnya belum genap satu tahun. Ketika ia berumur satu tahun, Tama dapat menghafal, nama beberapa tokoh wayang, seperti tokoh Buto, atau raksasa, serta tokoh tokoh lainnya.

Belajar matematika bukan perkara mudah, namun ditangan dua anak sekolah dasar ini, kengerian angka ataupun matematika berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Miura Chanda dan Raynor Baruna Reksa, siswa-siswi Sekolah Dasar Kuntum Cemerlang Bandung, ini telah membuktikannya. Kegemaran mereka pada matematika, telah membuat keduanya berinovasi, mencari cara mudah untuk memahami mata pelajaran itu. Berbagai uji coba pun dilakukan, hingga akhirnya menemukan ide dalam penciptaan suatu alat hitung selisih angka “Win On Zero”. Dari temuan itulah, keduanya menjadi salah satu dari 9 finalis Junior Scientist Award 2011 dan terpilih menjadi pemenang favorit.

Bernyanyi tidak hanya menghibur, tetapi juga bisa untuk membantu sesama. Seperti yang dilakukan gadis kecil 11 tahun ini, Kyla Christie Hambali. Dengan dukungan penuh dari sang ibu, Maris Stella Sutina, Kyla pun berbuat sesuatu untuk kemanusiaan, melalui program Sing To Build yang diluncurkannya tahun 2010 lalu. Program ini ditujukan untuk membantu korban bencana alam di Merapi dan Mentawai. Tak hanya bernyanyi, dari goresan tangan Kyla pun juga telah tercipta tiga buku, yang ia buat dengan kreatif. Kini dengan seluruh bakat yang dimilikinya, Kyla ingin bisa memberikan manfaat keindahan suara yang dianugerahkan Tuhan padanya, terutama bagi banyak orang.(kickandy.com)

kick andy

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s