MENYEBAR ILMU KE PELOSOK NEGERI

Berbuatlah sesuatu yang bermanfaat buat masyarakat semasa hidupmu. Dengan demikian kelak akan dikenang. Sepenggal kata bijak itulah mungkin yang ada di benak para pemuda – pemudi yang tergabung dalam gerakan Indonesia Mengajar.
Sejumlah pemuda dan pemudi itu menuju daerah-daerah terpencil di pelosok indonesia untuk mengabdi sebagai guru atau pengajar. Dan, tentu saja banyak cerita menarik dari para guru muda itu mengingat mereka sebagian besar berasal dari kota besar.

Salah satu pengajaar muda yang tampil di Kick Andy kali ini adalah Patrya Pratama. Pemuda kelahiran kota Bandung 24 tahun lalu itu berhasil lolos seleksi masuk ke dalam Gerakan Indonesia Mengajar yang digagas Anies Baswedan, salah satu tokoh pendidikan di Indonesia. Ia ditempatkan di Desa Labuangkallo, Paser, Kalimantan Timur.
“Saya jarang mandi di sana, karena air bersih sangat sulit”, ujar Patrya Pratama. Di desa Labuangkallo ini air menjadi sulit karena letaknya yang hampir 100 persen berada di atas laut. Selain langka air bersih, Fasilitas penerangan listrik juga tidak ada. “Tantangan selama saya mengajaar di Paser adalah melawan anggapan penduduk setempat yang tidak peduli dengan pendidikan. Yang penting bagi warga setempat adalah menjadi nelayan,” kata Patrya alumni Fisip Universitas Indonesia itu yang mengaku pernah dipukul salah satu orangtua siswa karena ada salah paham.

Sementara Agus Rachmanto, salah satu pengajar muda ditempatkan di SD Negeri 4 Titi Akar, Dusun Desa Samak, Pulau Rupat, Bengkalis, Riau. Pemuda bertubuh mungil alumni Fisipol, UGM itu harus mengajar di lingkungan masyarakat Suku Akit yang dikenal masih banyak menganut ilmu hitam yaitu santet.
“Terus terang pertama kali di tempatkan di desa ini saya gemetar. Tak hanya itu, di dusun Hutan Samak yang terisolasi dan tidak ada fasilitas listrik juga sempat membuat saya stress dan bosan kata pemuda asal Kebumen, Jawa Tengah berusia 26 tahun itu. Namun, Agus mengaku mengajar anak-anak yang terbelakang di Pulau Rupat itu dengan rasa cinta.

Barangkali yang dilakukan Ayu Kartika Dewi ini hampir tidak masuk diakal. Gadis berusia 28 tahun itu terpaksa meninggalkan pekerjaannya yang nyaman di Singapura “hanya” untuk menuruti kata hatinya untuk bergabung dalam gerakan Indonesia Mengajar. Ayu yang alumni Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya itu mendapat tugas mengajar di SDN Papaloang, Kecamatan Bacan Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.

Menurut Ayu, ia begitu mencintai dunia pendidikan anak-anak. Ia mengaku begitu total ketika mengajar anak-anak di Halmahera Selatan. “Sampai sekarang saya masih teringat kepada murid-muridku di sana. Aku benar-benar sangat emosional kalau mengenang hubunganku dengan anak-anak muridku,” ujar gadis yang banyak memperoleh penghargaan selama karirnya itu. Salah satu pengalaman menarik selama mengajar di sana adalah ketika Ayu menjelaskan kepada anak-anak tentang pentingnya kerukunan antar agama. Karena sebelumnya, anak-anak muridnya itu beranggapan bahwa agama yang terbaik adalah agama tertentu.

Gerakan Indonesia Mengajar yang digagas Anies Baswedan itu kini sudah memasuki angkatan ke tiga. Pesertanya adalah pemuda-pemudi Indonesia yang telah lulus seleksi dan ditempatkan sebagai pengajar muda di seluruh pelosok Indonesia yang masih kekurangan tenaga pendidik. Mereka harus mengajar dan berinteraksi dengan masyarakat setempat kurang lebih selama satu tahun. (kickandy.com)

kick andy

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s