Do’a Buat Ayah

Aku selalu bertanya mengapa Allah tak mengabulkan ribuan doa yang kuhantar. Akankah mereka tiba ditujuan? Ataukah perangkoku telah ternoda hingga menjadi penghambat ketibaannya? Jika begitu apa yang harus kulakukan? Semua perangko yang kumiliki telah bernoda. Titik-titik hitam itu takkan terhapus meski jutaan sesal kukumandangkan.

Suatu siang, empat belas tahun yang lalu, aku berdiri disebuah gerbang menuju jejeran ruangan berbentuk kotak yang tersusun rapi saling bertindih. Ilmu pengetahuan berseliweran didalam ruangan yang hampir seluruhnya bercat putih itu, pindah dari satu benak kebenak lainnya, tak terkecuali milikku. Sebagian pengetahuan dengan rela melekat erat dikepala namun sisanya harus kulekat-lekatkan sekuat tenaga.

Diluar tembok yang setia melindungi pengetahuan itu, kehidupanku sangat bertolak belakang. Usia mudaku begitu mudahnya terpengaruh pada nikmatnya kebebasan. Mungkin karena kemerdekaan yang kumiliki besarnya tak alang kepalang. Bebas melakukan apapun, pergi kemanapun, berteman dengan siapapun. Aku jauh dari pengawasan dan bimbingan langsung pihak berwenang. Intinya, I have no an invisible hand.

Tujuh tahun berlalu, namun segenggam gelar tak jua berhak kusandang meski sebenarnya anugerah kecerdasan yang ada dikepalaku tak kalah dari orang lain. Banyak orang yang menyayangkan hal ini namun aku kesulitan keluar dari jeratan kebebasan yang selalu membelai lembut. Akhirnya, tepat di bulan ketujuh tahun ketujuh aku harus menghentikan langkah yang setiap jejaknya selalu meninggalkan bayangan hitam. Aku tersentak pada matahari yang membeliakkan matanya. Aku tertegun pada bulan yang menyungging miris. Aku tersadar bahwa hari-hari berlalu sia-sia. Sungguh sebuah kesia-siaan yang kuciptakan sendiri.

Waktu yang diberi padaku telah mencapai batas. Kini, ayahku tak lagi bisa membayar kamar kost, tak lagi bisa memberi uang jajan, tak lagi bisa membiayai kebutuhanku. Jika aku bisa menatap mata ayah saat itu, kuyakin kutak sanggup melakukannya.

Demi pendidikanku ia korbankan segalanya. Demi sekolahku ia kerjakan apapun tanpa rasa malu. Demi hidupku ia relakan hidupnya. Ia tak pernah beristirahat walau sedetik. Namun, sekali lagi, semuanya sia-sia, sungguh sia-sia. Aku tak menghargai pengorbanannya, kerja kerasnya, dan harapan besar yang menggelembungkan hatinya. Rasanya, inilah penyesalan terbesar yang takkan pernah lepas dari hatiku hingga tuntas usiaku.

Kini aku terdampar disebuah gedung megah berlantai dua yang dibagian depannya tertulis Terminal Madya Kisaran. Aku harus berlapang dada menerima kenyataan bahwa kini aku menjadi pelayan walau sesungguhnya aku lebih tertarik menjadi sosok yang dilayani, persis seperti keinginan ayah. Menjadi seorang besar yang berjiwa besar. Sesuai dengan tokoh di buku pertama yang ia beri saat aku berumur tujuh tahun sebagai hadiah ulang tahun, buku yang tebalnya lebih dari lima ratus halaman, buku berjudul ’Perjuangan Sisingamangaraja XII’.

Aku selalu teringat pada ayah. Teringat pada logika sederhananya yang mampu merubah hal-hal biasa menjadi begitu memesona, teringat pada sikap tenangnya, teringat pada diamnya yang mengandung jutaan makna.

Aku juga teringat ketika ia melirikku saat teman-temannya mengetahui bahwa aku sudah bisa membaca meski umurku belum lima tahun, teringat pada senyum hangatnya ketika aku menjadi juara kelas, teringat ketika ia mengepalkan tangan saat aku juara lomba cerdas cermat tingkat kecamatan dan menjadi utusan ke kabupaten. Aku teringat pada bahasa tubuhnya dan aku tahu ia bangga padaku meski tak sepatah katapun terucap.

Ia menikmati kebanggaan itu dengan diam. Melewati momen-momen itu hanya dengan tersenyum meski aku tahu jantungnya berlonjak girang. Itulah ayah, tak seorangpun tahu bahwa ia tokoh utama dibalik kesuksesanku karena ia lebih memilih menjadi sosok dibalik layar. Ia rela berhutang untuk membelikanku buku bacaan. Ia rela menemaniku membaca hingga larut malam meski tubuhnya letih tak terperi dengan kantuk yang tak tertahan. Ia menaikkanku ke sepeda bututnya tuk sekedar mengikuti keinginanku menonton pertandingan sepak bola. Ia relakan bahunya kujadikan pijakan tuk sekedar melongok ke kandang buaya. Ia tak malu mengenakan baju koko yang tetas jahitannya dihari lebaran yang dipenuhi aroma baju baruku. Ia sigap menampung semua masalah yang tak bisa kupecahkan. Ia tempatku bertanya, tempatku berkeluh kesah, sahabat setia yang tak mengharapkan balasan apapun. Ia kuli yang menggali dana, ia juru pikul karung dana, ia buruh pabrik pengolahan dana, ia sopir yang mengantar dana itu ke penyalur. Lalu, dana hasil tetesan keringatnya, berhamburan didunia lain, dunia pengetahuanku.

Kini, ribuan mohon kulayangkan, ribuan doa kukirim, ribuan harap kutitip pada siang, malam, matahari, bumi, bulan dan semua yang kutemui. Kukatakan pada mereka, jika kalian bertemu Tuhan tolong sampaikan padaNya bahwa aku sangat menanti jawaban. Aku ingin menatap ayah yang menatapku penuh kasih. Aku ingin menyentuhnya seperti ia membelaiku. Aku ingin memeluknya seperti ia menggendongku. Ijinkan aku bertemu sosok yang paling kukagumi tuk mengucapkan tiga kata: maafkan aku ayah.

Logikaku berucap dalam diam, berceloteh disenyapnya keremangan. Mengapa Allah mengabulkan doa mereka yang musyrik? Allah memberi kemudahan bagi mereka yang mendustai ajaran yang dibawa RasulNya. Bahkan Allah memberikan kebahagiaan pada mereka yang tak percaya padaNya. Bukankah seharusnya Ia mengabulkan doaku? Doa orang-orang yang percaya padaNya? Doa manusia yang bersedia mengumandangkan kebesaranNya? Terus aku berpikir hingga tak mampu lagi berpikir.

Disisi lain, pengetahuanku akan kebesaranNya tak menerima hal itu. Bukankah Allah maha pengampun? Selalu mengasihi dan menyayangi hamba-hambaNya?

Pernah ku berucap dimalam yang ramai dengan rintik hujan: Ya Allah, bicaralah padaku. Tiba-tiba petir menyambar. Dimalam yang lain lagi aku berucap: Ya Allah izinkan aku melihat Engkau. Bulan pun muncul dari balik awan berteman bintang berkilau. Dipagi yang cerah aku berucap: Sentuhlah aku Ya Allah dengan kelembutanMu. Namun tanganku malah mengusir seekor kupu-kupu kecil yang hinggap didahiku. Saatanakku lahir, aku tetap tak tahu bahwa inilah jawaban atas permohonanku agar Allah menunjukkan kuasaNya.

Allah maha Bijaksana dan butiran kecil kebijaksanaan itu menetes ke kepalaku hingga akhirnya aku sadar bahwa Allah takkan mengabulkan semua doa saat doa itu tiba. Jika semua doa terkabul maka Ia tak lagi menjadi Tuhan. Ia akan menjadi hamba bagi manusia dengan berbagai permohonannya. Kiranya aku sangat beruntung karena doa-doaku terkabul meski aku tak menyadarinya.

Ketidaksadaran itu membuatku tertawan oleh perasaan tak mengenakkan. Selalu bertanya mengapa Tuhan tak jua mempertemukanku dengan sosok yang paling ingin kutemui. Aku tak meminta waktu yang lama, hanya cukup untuk menatapnya, menyentuhnya, memeluknya dan mengucapkan tiga kata. Hanya tiga kata. Tiga kata itu akan menjadi pengobat sesal yang kubawa dari masa lalu. Menjadi penyemangat akan indahnya hari depan. Menjadi pendorong agar aku tetap terus berusaha untuk memperbaiki diri. Menjadi seorang yang lebih baik.

Disuatu malam, seseorang yang tak tahu siapa berbisik padaku bahwa doaku telah terkabul. Doaku yang ribuan jumlahnya sesungguhnya telah terkabul sejak lama. Seseorang itu berkata: jika kau ingin bertemu ayahmu, bertemulah pada Allah. Jika kau ingin meminta maaf pada ayahmu, minta maaflah pada Allah, karena ia telah berada disisiNya. Bersemayam diputihnya awan bersama para syuhada.

Mimpi itu menyadarkanku. Doaku telah dikabulkan hingga kaki kecilku terbiasa lagi melangkah kerumahNya. Doaku terkabul hingga mulutku terbiasa lagi memuji kebesaranNya. Doaku terkabul hingga hatiku terbiasa lagi untuk bersyukur atas nikmatNya. Doa-doaku terkabul dalam wujud yang tak pernah kuduga sebelumnya. Maha suci Allah yang telah menyatakan sesuatu yang ghaib dalam gapaian logika manusia.

Meski ayah tak lagi ada didunia ini namun sosok keteladanannya tetap melekat dihati. Takkan lekang dihantam waktu. Bahkan, dalam matinyapun ia tetap berjasa. Doa yang kumohon atasnya, kini kembali padaku. Menjadikanku manusia yang lebih baik.

”Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya dan sayangilah ia seperti ia menyayangiku. Hanya kepadaMu aku meminta dan hanya kepadaMu aku memohon perlindungan. Sungguh maha suci Engkau, yang telah mengabulkan semua doa”.

Ayah, pengorbananmu takkan pernah terbalas, jasamu akan selalu kuingat, kasihsayangmu akan selalu bersemayam dihatiku. Terimakasih ayah. (Blogger Addict. kolompemuda.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s