Resep Simpel Di Balik Suksesnya Pengusaha Muda

“Kunci utama untuk sukses adalah kerja keras. Jangan pernah mengharapkan hasil yang maksimal dengan usaha minimal,” Denni Andri, president PT. Taka Turbomachinery Indonesia Denni Andri adalah owner sekaligus president dari PT. Taka Turbomachinery Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Mechanical & Industrial Engineering Industry. Bermula dari sebuah bengkel mesin yang berlokasi di Bandung, perusahaan ini kemudian berkembang pesat menjadi salah satu perusahaan yang mampu memperbaiki turbine dan compressor pump skala raksasa di Indonesia. Saat ini, PT Taka telah sangat berpengalaman dalam industrial pump repair, steam turbine repair dan gas turbine component repair dengan klien-klien seperti Pertamina, Indonesia Power, Torishima Guna, Kepindo dan Chevron Pasific Indonesia. Perusahaan yang dibangun dengan modal awal 60 juta ini, sekarang telah memiliki 150 orang pegawai, luasan fasilitas kantor dan workshop sekitar hampir 6000 m2 dan total aset senilai 80 Milyar.

Memulai dari Nol 
Lulus dari jurusan Geologi Institut Teknologi Bandung, Denni bekerja secara freelance di bidangnya. Pada tahun 1997 ketika krisis ekonomi menerpa, Denni kesulitan mendapatkan pekerjaan. Para kliennya malah harus melepas pegawainya. Kesulitan ini malah menjadi awal bagi Denni untuk memulai membangun bisnis sendiri. Berangkat dari ketertarikannya di bidang mesin dan mekanik sejak kecil, ia membuka bengkel permesinan umum. Dengan tidak memiliki background di bidang ini, tanpa ragu Ia menjalankan bisnisnya. “Saya memilih bidang ini karena minat dan menjalankannya secara learning by doing. Customer pertama saya adalah bengkel mobil, ordernya membubut tromol rem, dengan nilai penjualan pertama 15 ribu rupiah,” jelas Denni. Berbagai usaha dilakukan Denni untuk menjalankan bisnisnya. Mulai dari meminjam uang pada orang tua sampai menjual mobil. “Dari tahun ke tahun, mobil saya turun terus. Tahun 99 taft saya jual diganti hardtop untuk membayar hutang orang tua. Kemudian hardtop dijual, diganti motor, sampai motor pun akhirnya saya jual dan saya naik angkot,” tuturnya. Namun Denni tidak pernah putus asa dalam menghadapi semua kesulitan dan tantangan ini. Ketika ditanya tantangan apa yang paling besar baginya ? Denni menjawab, tantangan itu selalu ada setiap saat dan Ia menganggap itu sebagai suatu proses yang harus dilewati, mengalir begitu saja. “Tantangan ada di setiap anak tangga yang harus didaki,” ujarnya.

Denni tidak pernah merasa gagal. Saat awal membangun bisnis, Ia berkali-kali ditolak bank. “Mungkin dua pasang sepatu habis solnya karena saya pakai berkeliling dari bank satu ke bank lain,” ujarnya. Sampai akhirnya salah satu bank menerima pengajuan kreditnya. “Saya gagal mendapatkan kredit dari beberapa bank tertentu, tapi saya tidak gagal mendapatkan kredit dari bank,” ujarnya. Kenapa banyak pengusaha gagal ? Menurut Denni penyebabnya hanya karena kurang ulet, kurang gigih, kurang tahan cobaan dan kurang tahan banting. Selain itu, Denni pun merasa bahwa Ia tidak pernah merasa susah. “Uang saya seribu saya happy, uang saya 1 juta saya happy, uang saya 100 juta pun saya happy. Bukan uang saya seribu kurang, 1 juta kurang, 100 juta juga kurang. It’s about mindset,” jelasnya.

Pemimpin yang Visioner 
Berawal dari sebuah bengkel kecil dengan 2 orang karyawan, dalam kurun waktu 12 tahun Denni telah membangun PT. Taka yang kini hampir mendominasi bisnis overhaul turbin, compressor dan pompa di Pertamina, PLN dan berbagai industri Kimia. Mereka melakukan reblading turbine, rekondisi dan overhaul pompa, rebabbit sleeve bearing, dsb.  Selama 12 tahun  itu pula, Denni membangun sistem dan budaya dalam perusahaannya. “Saya kumpulkan dan bangun sumber daya manusianya, permesinannya, infrastrukturnya, sampai menjadi suatu sistem yang berjalan dengan baik.

Dulu semua peran saya jalankan sendiri. Secara bertahap peran pimpinan keuangan saya lepas, lalu peran pimpinan  Human Resources, lalu peran Pimpinan Pemasaran. Suatu saat nanti akan ada yang bisa mengambil peran saya sebagai presiden, dan saya tidak perlu ada disana lagi ,” tuturnya. Saat ini, PT Taka telah menguasai 30-40% pangsa pasar dan menjadi nomor dua di bidangnya. Denni menargetkan pada tahun 2012, PT Taka akan menjadi perusahaan nomor satu dan menjadi yang terbaik di Indonesia. Namun mimpi Denni tidak berhenti hanya sampai disitu. Setelah menjadikan Taka sebagai perusahaan nomor satu di Indonesia nanti, di tahun yang sama (2012) Ia berencana mendirikan perusahaan pembuat turbin pertama di Indonesia. “Selama ini jika ada yang membutuhkan turbin selalu pergi ke Jerman atau Jepang, nantinya tidak perlu lagi. Itu yang saat ini sedang saya bangun,” ujar Denni. Turbine-turbine pabrik kelapa sawit, pabrik gula, penggerak pompa di unit-unit utilitas industri kimia dan perminyakan, maupun juga pembangkit listrik skala kecil adalah sasarannya. Denni pun masih memiliki rencana-rencana lain setelah nantinya berhasil mendirikan pabrik turbin.  “Yang saya khawatirkan, jika saya merasa kenyang, maka saya akan malas. Karena itu saya harus terus bergerak dan bergerak terus,” tuturnya lagi.

Kerja Keras dan Tidak Takut Mengambil Resiko 
Denni sepertinya memang sudah memiliki bakat entrepreneur sejak kecil. Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Ia pernah berjualan layangan. Hal ini pun berlanjut sampai remaja. Denni pernah mengasong berjualan jeruk dan duren di pasar saat SMA. “Menciptakan sesuatu dan menghasilkan uang merupakan kebanggaan buat saya. Dan saya ingin terus melakukannya,” ujarnya. Walau memiliki bakat entrepreneur, menurutnya kunci utama seorang pengusaha untuk  sukses adalah kerja keras. “Tidak mungkin sesuatu datang begitu saja tanpa kerja keras.

Jangan pernah mengharapkan hasil besar dengan usaha yang minimal. Jika ingin sukses, usahanya  harus maksimal,” tuturnya. Denny pun berpendapat, bakat yang hebat tidak menjamin orang akan sukses. Harus didukung dengan knowledge dan kerja keras. “Jika bakat dan knowledge itu dikombinasikan dengan baik, Anda bisa menjadi seorang maestro.” ujarnya. Menurut Denni tidak ada kata terlambat atau pun terlalu cepat untuk menjadi seorang entrepreneur. Saat paling tepat adalah mulai saat ini juga. “Just do it !! Lakukan sekarang, jangan hanya menjadi wacana,” jelasnya. Ia juga menyarankan, jika ragu melangkah menjadi entrepreneur karena takut akan resiko, bergaulah dengan orang-orang yang berani, maka keberanian itu akan tertular. “Carilah teman atau mentor yang tepat., atau bergaulah dengan orang yang bisa memberi motivasi. Dampaknya akan lebih hebat lagi ,” ujar Denny.

Apa reaksi Anda saat melihat orang-orang yang berhasil di sekeliling kita? Nampaknya ada dua kemungkinan yang biasanya terjadi, kita menjadi kecil hati dan memandang diri begitu kecil, atau sebaliknya kita menjadi terinspirasi untuk berusaha sekuat tenaga kita untuk bisa berhasil seperti mereka.

Untuk pilihan yang kedua, nampaknya hanya dikerjakan oleh segelintir orang saja. Salah satunya adalah pria muda yang ramah dan energik ini, Chiat Peng, 34 tahun. Ia adalah seorang tipikal pengusaha muda sukses ibukota yang menerapkan prinsip “bila dia bisa maka saya juga bisa” di dalam satu kegigihan dan kerja keras, bahkan dengan melihat orang-orang yang berhasil ia justru tertantang untuk melakukan hal yang sama.

Mengaku tidak memiliki prestasi yang demikian menonjol, tetapi satu inspirasi yang ia peroleh dari mereka yang ada di sekelilingnya telah membuat Chiat Peng memperoleh banyak kesempatan baik dalam hidupnya. Salah satunya adalah saat ia menjadi staf pengajar di Universitas Tarumanagara. “Saya gak pernah terpikir untuk mengajar. Dari sisi prestasi saya biasa-biasa saja, dari pengalaman mengajar, saya tidak punya apa-apa, ” akunya saat ia memulai karir mengajarnya sejak masih mahasiswa. Ia juga terinspirasi oleh salah seorang dosen yang ia kagumi karena telah mengajar di masa mudanya, dan ternyata dosen ini juga yang mengajaknya ikut menjadi asisten pengajar hingga akhirnya terlibat menjadi salah satu pengajar di universitas swasta ternama ini.

“Di tengah jalan, di kiri kanan …banyak yang membuat saya lebih tertantang lagi. Mereka kan juga makan nasi, saya juga makan nasi. Kenapa dia bisa begitu, kok saya gak bisa? Saya terinspirasi. Suatu hari, mungkin tidak setahun atau 2 tahun, saya bisa jadi seperti itu, saya bisa jadi seperti dia,” jelasnya menggambarkan bagaimana terinspirasi dan perasaan tertantang membawanya bekerja keras untuk mencapai seperti mereka yang berhasil di sekelilingnya.

Hal ini jugalah yang membawanya berangkat ke negeri Paman Sam untuk meraih gelar MBA. Satu hal yang baginya tidak pernah dia impikan sebelumnya. Untuk itu ia bersedia berjuang cukup keras, khususnya saat mengikuti test TOEFL yang ternyata harus dijalani berulang kali. Ia harus mengatasi kejenuhan dalam mengulang mempelajari bahan yang sama beberapa kali, tetapi ia tetap persisten dan akhirnya berhasil melewatinya dan berhasil berangkat ke Amerika.

Berjuang di Negeri Orang
Setiba di Amerika justru baru memulai perjuangan yang baru. Ia harus menghadapi kondisi keuangan yang cukup sulit saat Indonesia baru mengalami reformasi dan krisis ekonomi. Ia tidak putus asa dan menyerah. Ia mengajukan permohonan ke Dekan Universitas untuk dapat mempercepat masa studinya. Untuk itu ia harus bekerja lebih keras dari mahasiswa-mahasiswa lainnya. Ia bekerja part time menjadi assistant professor dan juga bekerja di Lab, dan karena ia mengambil lebih banyak mata kuliah untuk mempercepat penyelesaiannya, maka ia sudah terbiasa menghabiskan malam-malam dengan menulis paper hingga dini hari di perpustakaan. Tidur hanya beberapa jam saja adalah makanan sehari-hari. Tapi semua membuahkan keberhasilan saat ia menyelesaikan studi dengan cepat.

Tertantang Mencari Pengalaman Bekerja di New York
Setelah lulus ia tertantang untuk mencari pengalaman dengan bekerja di New York. Seorang sahabatnya orang Amerika di kampus memberinya inspirasi, “This is the land of opportunity. If you say you can work here, you can be successful.” Sebuah harapan dan keyakinan timbul dalam hatinya. Dalam waktu sekitar dua bulan, sesuai dengan yang ia tergetkan, akhirnya ia mendapat pekerjaan menjadi Assistant to Marketing Director di salah satu perusahaan di New York. Pengalaman ini justru menempa dirinya, terlebih lagi karena kendala bahasa yang jelas menuntutnya bekerja lebih keras lagi. Namun inilah yang menjadi batu loncatan menuju karir yang semakin matang di Indonesia.

Sukses Merupakan Tahap Demi Tahap
Chiat Peng memandang keberhasilan dengan bijak, namun hal ini membuatnya tidak pernah berhenti untuk meraihnya karena baginya selalu ada tahapan baru yang harus dilewati dengan kesuksesan, ” Satu episode yang telah saya lalui itulah kesuksesan, tetapi masih ada episode berikutnya yang harus saya jalani. Tahap demi tahap dimana setiap tahapan harus saya selesaikan itulah keberhasilan dan saya harus memasuki tahapan berikutnya lagi sampai satu tahapan yang saya sendiri tidak tahu.”

Ia mengaku bahwa ia selalu termotivasi dan terinspirasi saat ia banyak melakukan traveling ke luar negeri dan bertemu dengan para pebisnis muda yang nampak sukses, maka ia kembali tertantang untuk mengikuti keberhasilan yang sama .

Tips yang selalu ia anut untuk mencapai kesuksesan adalah tidak cepat menyerah apapun kondisinya dan harus menjadi tegar dan kuat seperti batu karang dalam segala keadaan. Ia yakin bahwa Tuhan sudah menciptakan setiap orang bukan untuk menjadi seorang yang gagal, namun apakah semuanya kembali tergantung kepada kita. Apakah gagal atau berhasil, semuanya ditentukan oleh masing-masing kita. “Saya sangat percaya bahwa kesuksesan itu hak kita, namun mungkin jalannya saja yang berbeda satu sama lain, ” tukasnya menjelaskan pandangannya mengenai kesuksesan.

Impiannya Kini

Chiat Peng kini memiliki impian membangun sebuah consulting company yang berfokus dalam bidang sales management, “Setelah saya lalu lalang di dunia sales selama 10 tahun, saya melihat banyak perusahaan-perusahaan yang masih membutuhkan adanya advice dalam selling skill.” Sosok muda ini sekarang memiliki satu tahapan yang baru dalam hidupnya yaitu membagikan pengalamannya dengan menjadi seorang trainer yang mampu menjadikan banyak perusahaan berhasil. Kesuksesan baginya juga adalah dapat berbagi pengalaman dengan para mahasiswanya dengan satu harapan bahwa mereka akan berkembang lebih baik darinya.

Seperti yang selalu ia ucapkan pada dirinya sendiri, “Jika orang lain bisa, mengapa saya tidak?” dan hal ini membawanya selalu mampu melalui setiap jalan hidupnya, maka hal yang sama juga hendak dibagikannya kepada mereka yang akan mendengarkan pengalamannya sebagai seorang Coach.

Inilah Tjiauw Chiat Peng, sosok eksekutif muda yang memiliki prinsip hidup pantang menyerah dan justru selalu tertantang untuk mencapai yang lebih baik dalam hidupnya. (suaramedia.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s