Tips Menjadi Asisten Dosen (1) | Deskripsi Umum

Deskripsi Subjek

Subjek berjenis kelamin wanita, sekitar umur kurang lebih 19-20 tahun. Memiliki kulit putih. Berpenampilan rapi menggunakan jilbab panjang. Dalam proses wawancara subjek dalam menjelaskan dan menjawab pertanyaan selain bahasa verbal juga menggunakan bahasa non verbal. Bahasa verbal yang digunakan menggunakan bahasa sehari-hari tidak formal seperti kata nggak, emang dan udah. Dalam menjawab pertanyaan subjek menjawab dengan lancar walaupun terkadang terlihat agak tersendat dengan kata hmm,, ketika ingin mulai menjawab atau di tengah proses menjawab. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan subjek lebih banyak melihat ke arah   selain penanya yaitu dengan menggerakkan bola mata ke atas, ke samping, ke bawah dan terkadang menengok ke belakang. Dalam menjelaskan atau menjawab pertanyaan subjek juga sering kali mengiringinya dengan gerakan tangan untuk menegaskan verbalnya. Ekspresi muka subjek juga berbeda dalam menjawab pertanyaan yang satu dengan lainnya.

Verbatim

Iter: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Itee: Wa’alaikum salam

Iter: Iya perkenalkan Mbak nama saya Mariam Yahya, saya dari jurusan psikologi kelas E semester kedua. Nah, disini saya ada tugas dari Bu Atis itu psikodiagnostik mewancarai temanya sih terserah apa, tapi disini saya ingin mengambil tema itu tentang asisten laboratorium. Kalau nggak salah Mbak ini asisten laboratorium kan?

Itee: Heh, iya

Iter: Bisa perkenalkan nama Mbak siapa, jurusan, semester berapa gitu?

Itee: Hmm,,nama Ratnawati panggil aja Ratna sekarang semester enam dari psikologi.

Iter: Nah, Mbak bersedia kan ya saya wawancarai tentang tugas saya ni tentang asisten laboratorium?

Itee: Iya, insyaAllah bersedia

Iter: Mungkin langsung aja kali mbak ya pertanyaannya, disini mungkin saya nggak akan banyak mengambil waktu Mbak, sekitar 30 menit maksimal.

Itee: Iya

Iter: Pertanyaan pertama itu, apa yang Mbak ketahui tentang asisten laboratorium?

Itee: Hmm,,kalau dari tugas sendiri asisten itu biasanya itu bisa mendampingi di mata kuliah praktikum psikologi gitu kan. Sebenernya kalau di psikologi sendiri itu nggak ad asdos tapi yang ada aslab, asisten lab ya. Jadi, selain mendampingi mahasiswa di mata kuliah yang dipraktikkumkan, kita juga ada di lab sendiri melayani apa lab seperti dari mulai mahasiswa S1 sampai S2.

Iter: Oh gitu, udah gitu aja Mbak ya?

Itee: Iya

Iter: Terus Mbak sendiri kan asisten laboratorium, nah pastikan ada proses ya Mbak untuk menjadi asisten laboratorium sebagai pengganti asisten dosen itu ya, kalau di psikologi kan nggak ada asisten dosen, nah prosesnya itu bisa dijelasin nggak Mbak dari awal itu di tes dulu atau seperti apa hingga bisa menjadi asisten laboratorium itu seperti apa?

Itee: Hmm,,awalnya kita dibuka pendaftaran itu sekitar akhir bulan eh akhir tahun Desember kalau nggak salah, trus kita daftar kita penuhi persyaratannya. Seleksi pertama itu anu harus lulus administrasi seperti kelengkapan data segala macemnya, trus ada syarat IP dan segala macem. Trus hmm, diseleksi lagi yang lengkap administrasinya lulus. Kemudian seleksi tahap dua itu tes itu tes psikologi kalau nggak salah ada lima tes setengah hari, jadi langsung beruntut. Seperti tes grafis, tes warteg dan yang lain-lain itu kan. Kemudian kalau udah lulus lagi itu seleksi ketiga lagi itu interview dengan kepala lab.

Iter: Hmm,, itu banyak ya Mbak yang daftar jadi asisten laboratorium atau seperti apa?

Itee: Hmm,,kemarin si banyak ya sekitar berapa, lengkapnya juga kurang tahu, 17 kalau nggak salah, 17 atau 20-an. Tapi yang diterima sekitar 11, 11 orang.

Iter: Mbak memang kepingin jadi asisten laboratorium atau seperti apa, motivasinya bisa menjadi aslab itu bagaimana?

Itee: Emang niat kan, emang kepingin jadi aslab sekaligus dari aslab sendiri kan kita harus dituntut lebih banyak tahu daripada mahasiswa yang lain, jadi ada proses belajarnya juga gitu.

Iter: Iya, jadi emang kepengen Mbak ya. Trus selama menjadi aslab itu tugas-tugasnya apa? Tadi kan dijelaskan tugasnya itu mendampingi dosen tentang laboratorium dan juga di dalam laboratorium itu bisa dijelasin secara rincinya  seperti apa gitu?

Itee: Hmm, berhubung saya asisten baru ya dek ya mulainya dari Maret kemarin sampai sekarang, jadi baru sekitar satu bulan setengah itu kita pertama menjadi, ditentukan dulu jadi asisten apa praktikum kan kalau yang ini kebetulan jadi asisten, asisten mata kuliah interview sama lintas budaya. Kembali lagi ke dosennya lagi, dosen pengampu itu ada yang menginginkan asisten ikut selama perkuliahan tapi ada juga yang praktikumnya aja baru nongol gitu kan. Jadi, kita ikut dosen kalau di interview saya masuk ke kelas setiap minggunya itu kebetulan megang dua kelas, megang dua kelas, jadi mengikuti perkuliahan kembali, kemudian di akhir atau menjelang praktikum, menjelang praktikum ini menyiapkan,,menyiapkan,,

Iter: Ya, silahkan Mbak tadi mungkin ada intermezzo sebentar.( Ada teman dari mbak Ratna yang menyapa mbak Ratna dan tidak tahu bahwa ada proses wawancara)

Itee: Menjelang praktikum kita koordinasi lagi ke dosen pengampu bagaimana teknisnya praktikum, tempat dan segala macemnya, tata tertibnya kita rembukan bersama dosen kemudian kita umumkan di kelas dan menjelang praktikum itu juga,hmm mahasiswa boleh melakukan belajar mandiri atau asistensi kepada asisten. Kemudian untuk tugas sehari-hari di lab itu ada jadwal piket itu dua mingggu sekali. Itu biasanya kita piketnya itu untuk jaga lab aja, cuma buat jaga lab. Kalau yang baru mungkin tidak terlalu banyak tugasnya paling cuma, Cuma ya di lab lah menjenguk lab, tapi kalau yang lama-lama biasanya sudah berpengalaman itu melayani seperti kalau ada mahasiswa S2 mau pinjam alat tes itu bisa.

Iter: Itu hanya mahasiswa S2 ya? Saya kan baru S1 aja itu belum kan ya, nah saya itu bingung kalau mau masuk laboratorium psikologi itu seperti apa prosedurnya, mungkin di awal sudah dijelaskan tapi itu prosedurnya seperti apa?

Itee: Sebenernya untuk meminjam alat tes sendiri itu kita nggak bisa ya sembarangan pinjam alat tes kecuali pada mata kuliah tertentu di harus, di dapat tugas dari dosen, itu dosennya ngasih memo ke lab. Anak-anak boleh masuk untuk pinjam alat tes itu di dalam lab nggak boleh di bawa keluar. Dan untuk mahasiswa S2 sendiri kan tetep sesuai prosedurnya tapi ya alatnya bisa di bawa dan ke pasca tapi juga tetep ada rekomendasi dari dosen langsung.

Iter: Oh gitu, harus ada rekomendasi ya.

Itee: Iya itu kalau di bawa dan itu juga nggak bisa di bawa juga tetep harus di dalam lab.

Iter: Tetap dalam prosedurnya ya,

Itee: Iya

Iter: Selanjutnya mungkin kan pasti selama proses menjadi asisten laboratorium itu kan ada kesulitan atau ada hambatan gitu atau kesulitan apa gitu yang dirasa selama menjadi aslab?

Itee: Kesulitannya mungkin koordinasi dengan asisten dengan asisten yang lain, kan dalam mata kuliah itu juga tidak hanya satu asisten tapi banyak dan kita saling koordinasi gitu kan trus, hmm waktu asisten terkadang berbeda persepsi apa yang kita sampaikan ke mahasiswa yang satu dengan yang lain itu tiap asisten berbeda. Jadi, kadang mahasiswa juga bingung kan, tanya ke asisten ini kok kayak gini, nanya asisten lain kayak gini. Kemudian biasanya juga dengan dosen mungkin ketika sudah deal seperti ini nggak tau dosennya ganti, ganti apa, dari kesepakatan dari kesepakatan awal. Jadi, kita menyampaikan kepada mahasiswa juga ikut ganti-ganti akhirnya mahasiswa “kok kayak gini ya?”, bingung akhirnya jadi bingung mahasiswanya sendiri.

Iter: Itu kesulitannya ya, nah kalau misalnya ini tadikan kesulitan secara eksternal gitu ya, kalau suka dukanya menjadi aslab itu apa sampai kepengen tekad untuk menjadi aslab gitu? Trus setelah menjalani “aduh kok gini sih kok gini”, sesuai harapan atau bagaimana?

Itee: Kalau suka dukanya, hmm,, sukanya otomatis saya belajar lagi ya seperti interview, mau nggak mau harus belajar interview lagi dan ketika dan ketika di dalam kelas atau ditanya atau waktu asistensi para mahasiswa saya jadi “oh iya interview itu seperti ini ini ini gitu lho”. Ketika mereka tanya saya harus bisa menjawab itu. Jadi, ada proses belajar gitu. Tapi ketika dukanya ya otomatis waktu, waktu apa, tidak ada waktu luanglah, yang dulu masih bisa tidur siang atau apa, ya sekarang fokus di sini kemudian hmm,, itu waktu saat ada asistensi biasanya ada yang lewat sms atau telepon tengah malem atau shubuh-shubuh itu nanya ini ini. Dan ketika sudah dijelasin itu masih tetep nggak ngerti jadi kayak ngeyel gitu, kok kayaknya nggak didengerin di kelas udah dijelasin tapi,,

Iter: Tetep aja gitu ya,

Itee: Tetapi kadang ketika dosennya ada, tidak mendengarkan ada yang sengaja, “tutor aja tanya asisten”. Jadi, kayak sedikit meremehkan juga. Kemudian ada satu lagi  ketika praktikum itu kan asisten berusaha untuk tegas dan disiplin ya, mengenai performance seperti pakaian dan rambut biasanya cowok dan ketika kita berusaha untuk disiplin dan tegas, itu biasanya mahasiswa itu “ih, apa asistennya nyebelin, asistennya galak jadinya,,”

Iter: Serba salah gitu ya Mbak?

Itee: He’eh, jadi kadang “asisten itu lho galak ih”, nggak suka sama ini, kadang sih itu.

Iter: Tapi serba salah ya mau milih temen atau prosedur.

Itee: He’eh soalnya otomatis mereka kayak benci gitu lho.

Iter: Tapi itu konsekuensi ya,

Itee: Iya

Iter: Pernah nggak ada kecurangan-kecurangan dalam asiten labratorium atau seperti apa?

Itee: Ini asistennya atau mahasiswanya?

Iter: Ya, kalau ini kan saya bicara sama asistennya ya. Ya gitu dari asistennya sendiri seperti apa atau mungkin tahu pengalaman anak mahasiswanya bagaimana?

Itee: Hmm,, kalau kemarin sih praktikum banyak yang tidak sesuai seperti tata tertib pendaftaran mulai dari pendaftaran sampai batas maksimal segini gitu. Tetapi masih banyak mahasiswa yang belum daftar jadi kadang kalau kita kenal kakak tingkat yang ngulang mata kuliah itu kan kita bisa menghubungi dan kadang berusaha untuk memberi dispensasi lah. Karena kita juga tahu kondisinya, misal kecelakaan atau emang orangnya sibuk banget gitu kan. Tapi kadang juga ya mau nggak mau harus profesional gitu kan, nggak boleh ikut praktikum atau gimana harus memenuhi syarat-syarat yang lain dulu. Biasanya ribet kalau yang telat daftar. Kemudian hmm,, yang kemaren praktikum itu rambutnya ada yang gondrong, kebetulan dan rambutnya itu merah. Sudah diingetin nggak boleh bewarna dan segala macem, tapi dengan alasan “kan rambut nggak boleh disemir item Mbak?”. Jadi bingung juga gitu kan, jadinya bebas trus ada juga yang rambutnya gondrong, sebenernya kita nggak ingin ada asisten yang memotong rambut, tapi biarkan mereka yang memotong mungkin temannya atau siapa. Tapi mahasiswanya memilih asistennya yang memotong dan nggak mau dipotonng temennnya kecuali sama asisten. Jadi, tega nggak tega kita juga harus itu motong rambutnya.

Iter: Banyak ya pengalaman jadi asisten itu.

Itee: InsyaAllah banyak

Iter: Mungkin saya kepengen gitu ada tekad dan memenuhi syarat untuk menjadi asisten laboratorium atau seperti apa. Hmm, ya mungkin itu aja yang saya tanyakan atau mungkin ada yang perlu ditambahkan gitu Mbak tentang asisten laboratorium seperti apa?

Itee: Nggak ada sih.

Iter: Ya udah gitu aja kali ya, tuh kan Mbak nggak nyampai 30 menit, ya cukup mungkin. Terima kasih atas luang waktunya untuk saya untuk mewancarai Mbak tentang asisten laboratorium. Assalamu’alaikum Mbak.

Itee: Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.

Kesimpulan

Dari wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dari sudut pandang subjek tentang asisten laboratorium adalah sebagai berikut. Asisten laboratorium memiliki kewajiban mendampingi mahasiswa di mata kuliah yang dipraktikkumkan, juga ada di laboratorium melayani mahasiswa yag berkunjung ke laboratorium baik itu S1 ataupun S2. Proses untuk menjadi asisten laboratorium itu terdiri dari 3 tahap yang sifatnya eliminasi berdasarkan tahapan-tahapan, yaitu: (1) Seleksi administrasi, (2) Tes Psikologi, dan (3) Interview dengan kepala lab.

Selanjutnya asisten laboratorium memiliki dosen pengampu dengan materi yang berbeda-beda seperti di contohkan oleh subjek bahwa dirinya adalah asisten laboratorium untuk mata kuliah interview dan lintas budaya. Bagaimana tugasnya itu tergantung dosennya mau bagaimana apakah ikut mendampingi saat kuliah berlangsung atau hanya saat praktikum. Selain itu, asisten laboratorium bersama dosen saat menjelang praktikum membuat teknis-teknisnya seperti apa dan melakukan asistensi kepada mahasiswa. Selain asistensi asisten juga memiliki jadwal piket untuk menjaga laboratorium psikologi.

Kesulitan yang dirasa subjek selama masa menjadi asisten adalah koordinasi antara sesama asisten untuk menyamakan persepsi yang akan disampaikan kepada mahasiswa agar seragam dan juga koordinasi dengan dosen. Suka duka yang dialami subjek selama menjadi asisten laboratorium, kalau sukanya subjek mengatakan bahwa jadi merasa dituntut lebih tahu sehingga ada proses belajar kembali. Sedangkan dukanya adalah tidak ada waktu luang dan lebih fokus pada asisten laboratorium lalu mahasiswa yang terkadang meremehkan penjelasan dosen dan menggampangkan karena menganggap ada asisten yang akan menjelaskan kembali, mahasiswa yang asistensi menggunakan media komunikasi seperti sms dan telepon yang tidak mengetahui batas, dan tuntutan seorang asisten yang harus tegas dan disiplin tetapi dipandang buruk oleh mahasiswa serta konsekuensi lainnya yang juga harus berusaha tetap profesional dalam menjalankan prosedur yang ada tanpa kecurangan-kecurangan yang kadang kala tidak bisa dihindari.

Dari deskripsi subjek dan proses wawancara saya menyimpulkan bahwa subjek sebagai seorang asisten laboratorium cukup tahu tentang seluk beluk asisten laboratorium yang dikemas olehnya menurut sudut pandangnya. Subjek dalam menjelaskan tentang pengalaman-pengalaman subjek terutama kesulitan yang dihadapi dan suka dukanya selama menjadi asisten laboratorium lebih alamiah dan santai apa adanya sehingga ekspresi muka yang tersirat juga terlihat lebih nyaman dan tidak terlalu serius dengan muka tersenyum. Dalam proses wawancara subjek menjawab dengan serius dan lancar walaupun terkadang sedikit tersendat seperti contoh kata hmm,, yang saya artikan sebagai ciri subjek dalam proses berpikir dan mengingat serta menyusun kata-kata untuk menjawab. Dan juga gerakan tubuh yang mengiringi verbal yang disampaikan sebagai bentuk pesan non verbal. Seperti yang telah di jelaskan di atas subjek menggerakkan bola matanya ke atas, ke kiri, ke kanan dan ke bawah serta menengok ke belakang melihat situasi. Selain itu subjek mempertegas penjelasan dan jawaban-jawabannya dengan menggunakan gerakan tangan untuk mengiringi verbalnya. Selain itu walaupun lancar dalam menjawab subjek sering menoleh dan menggerakkan bola matanya melihat situasi di sekitarnya sehingga terkadang membuat pikirannya teralihkan seperti contoh ketika ada temannya yang menyapanya dan menggodanya dia mengulang-ulang kata-katanya yang disertai dengan ekspresi muka bingung karena pada proses ini saya menggunakan video untuk mengabadikan ekspresi muka yang ditampilkan selama proses wawancara.

________

Tulisan di atas adalah hasil wawancara

  • Interviewer: Mariam Yahya
  • Interviewee: Ratnawati
  • Hari/tangal: Senin, 19 April 2010
  • Pukul: 15.10-15.26 WIB
  • Lokasi: Depan laboratorium psikologi masjid AR. Facrudin lantai 2

Tujuan:

1. Mendeskripsikan siapa subjek

2. Mengetahui seluk beluk dan pengalaman langsung dari seorang asisten

laboratorium

3. Memenuhi tugas wawancara dasar-dasar psikodiagnostik

Sumber: benyahya.student.umm.ac.id

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s