ASRAMA MAHASISWA, Tempat Pendidikan Soft Skill

Universitas Gadjah Mada kembali merencanakan untuk mengembangkan fasilitas pendidikan bagi para mahasiswanya dalam bentuk asrama mahasiswa di dalam lingkungan kampus. Program pengembangan asrama mahasiswa, yang tercantum dalam master plan UGM disahkan oleh MWA Tahun 2005, diharapkan dapat menunjang pengembangan program pendidikan mahasiswa UGM pada masa yang akan datang.

�Kenapa tidak untuk dosen-dosennya? Ini karena salah satu yang kita inginkan, dan menjadi misi pengembangan pendidikan dari dulu sampai sekarang, ya memang mahasiswa. Kunci besarnya di situ,� kata Ketua Komisi Perencanaan UGM, Ir. Ikaputra, M.Eng, Ph.D, di ruang kerjanya, Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik UGM, Rabu (18/1).

Pak Ikaputra menjelaskan keberadaan asrama di dalam lingkungan kampus sesungguhnya tidak terlepas dari konsep pengembangan kota. Aktivitas kota yang berlangsung pada siang hari dan berhenti pada malam hari akan menyebabkan kota menjadi ruang kosong, yang di luar negeri biasa disebut kota setan. Keamanan pun tidak lagi terjamin, sehingga masalah kriminal gampang terjadi. Demikian pula kawasan kampus UGM yang cukup besar dan luas, sesungguhnya juga terdiri dari satu ruang kota, yang tidak ditinggali kecuali rumah-rumah dosen yang sudah semakin sedikit penghuninya.

�Dalam konsep besar, solusinya adalah dengan memberikan living di kawasan semacam itu, seperti pengentasan kualitas hidup pada malam hari dari suatu kawasan. Karena tujuan pendirian kampus bukan untuk tinggal, maka harus ada seleksi atau semacam prioritas. Kita sebut, multifungsi kawasan harus dikembangkan supaya bisa menjamin kualitas kehidupan yang lebih baik di dalam kampus. Salah satu keanekaragaman fungsi itu adalah konsep tinggal,� papar Pak Ikaputra.

Jika akhirnya diputuskan untuk membangun asrama di dalam lingkungan kampus, menurut Pak Ikaputra, hal itu sudah melalui pertimbangan yang cukup komprehensif, terlebih dalam hal mengatasi keamanan ruang kota. Sedangkan jika ditilik dari kepentingan mahasiswa, seseorang yang tinggal dalam suatu lingkungan yang dibuat dekat habitat belajarnya, diharapkan dia akan mampu belajar lebih baik.

�Mungkin asrama Ratnaningsih dan Dharmaputra, keuntungannya memiliki akses ke kota yang lebih baik, tetapi kedekatannya ke kampus tidak. Sehingga mahasiswa yang tinggal di sana lebih dekat dengan lingkungan sekitar asrama. Kecenderungannya biasanya seperti ini,� ulasnya.

Karena itu, keberadaan asrama mahasiswa di dalam lingkungan kampus menjadi sesuatu yang penting, terutama untuk pengembangan pendidikan berbasis non kurikuler seperti life skill atau soft skill. Mahasiswa tidak lagi hanya tahu sebatas kampus ke rumah atau sebaliknya, tetapi juga berinteraksi di luar jam-jam perkuliahan di kelas. Sehingga asrama menjadi tempat pendidikan soft skill, seperti pengembangan leadership, yang bagus.

Pak Ikaputra juga menjelaskan, asrama mahasiswa merupakan program hibah dari Departemen Pekerjaan Umum. Sedangkan pendanaannya, dari Departemen PU atau berasal dari Perum Perumnas. �Rusunawa untuk mahasiswa ditawarkan oleh PU. Kenapa disebut rusunawa karena programnya memang program perumahan sederhana untuk orang-orang yang membutuhkan. Salah satunya adalah mahasiswa. Di Undip, ini sudah dibangun. UGM menerima tawaran karena diharapkan akan mempercepat pengembangan fasilitas-fasilitas untuk mahasiswa,� paparnya.

Empat Unit

Di dalam master plan disebutkan, sedikitnya akan ada empat unit asrama mahasiswa. Lokasinya, direncanakan berdekatan dengan keberadaan empat klaster yang ada di UGM. Namun Pak Ikaputra mengakui, ada sejumlah keterbatasan untuk merealisasikannya. Sedangkan jika ditilik dari target yang ingin dicapai, diharapkan asrama mahasiswa tersebut dapat menampung 10 persen dari total jumlah mahasiswa baru yang diterima UGM setiap tahunnya. Masing-masing asrama akan menampung sekitar 1.500 mahasiswa. Mereka akan tinggal di asrama selama setahun.

�Diharapkan tidak ada prasyarat kecuali bahwa mereka adalah mahasiswa baru, asing maupun non asing. Ini akan menjadi tempat pendidikan yang bagus. Sebab salah satu indikasi global adalah memiliki kemampuan untuk bertukar pikiran, terlebih dengan mahasiswa asing. Jadi akan sangat menguntungkan bagi mahasiswa asing maupun mahasiswa Indonesia,� jelasnya.

Tak hanya itu, dengan menikmati kesempatan tinggal di asrama mahasiswa selama setahun, diharapkan bukan saja mempercepat proses adaptasi bagi mahasiswa baru dengan suasana belajar di perguruan tinggi. Tapi mereka juga akan beroleh �bekal hidup� yang berguna ketika kemudian tinggal di tempat kos, selepas dari asrama. �Kos-kosan di luar kadang kan tidak memiliki supervisi yang bagus, sementara di asrama ada supervisi. Jadi mereka akan tahu, apa sih hakekat hidup di asrama itu. Ini akan menjadi dasar bagi dia untuk melangkah selanjutnya,� kata Pak Ikaputra.

Pak Ikaputra juga menjelaskan, manajemen asrama mahasiswa tersebut akan mengadopasi model asrama yang ada di Singapura dan Malaysia. Setiap asrama akan dimanaj oleh tiga komponen. Pertama, dosen, terutama dosen muda, yang akan menjadi bapak atau ibu asuh yang bertugas melakukan pembimbingan di asrama. Kedua, staf nondosen dengan tugas menyelesaikan masalah administrasi. Ketiga, mahasiswa yang ditunjuk menjalankan organisasi asrama dan bertugas memastikan ada kegiatan di asrama. (UGM)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s