CERITA MAPRES FASILKOM 2010 : Maju Terus, Biarkan Allah yang Membuka Pintu Kemudahan itu Satu Persatu

Sore itu seperti biasa, ibu saya duduk di samping rumah beristirahat sejenak setelah menyapu pekarangan rumah yang dipenuhi oleh dedaunan kering yang berjatuhan. Saya masih ingat saat itu adalah sekitar 2 bulan sebelum SPMB dimulai dan saya yang sedang mengikuti program intensif pembinaan untuk persiapan SPMB. Saya baru saja pulang dari tempat bimbingan belajar langsung melangkah tuk mencium tangan ibu dan duduk di sebelahnya. Lama nian suasana diliputi kesunyian, hingga akhirnya ibu saya memecah suasana dan berkata, “Ndri (panggilan saya di rumah) kalau kamu kuliahnya tahun depan saja gimana?” Ternyata bulan-bulan ini ayah saya harus mengeluarkan banyak sekali uang. Selain untuk persiapan kuliah saya, ia juga harus mengeluarkan uang untuk membayar kontrakan nenek, mempersiapkan adik saya yang akan masuk SMA, atau membayar utang modal usaha dari bank.

Saya hanya berucap “insya Allah Ma, gapapa kok, yang penting si Ardi (Nama adik saya) diutamakan masuk SMA saja tahun ini, O ya tapi tetep boleh bimbel ya Ma, kan udah dibayar bimbelnya”. Ibu saya mengangguk lambat tentunya pasti dengan perasaan berat hati menawarkan keputusan ini. Lalu percakapan singkat sore hari itu diakhiri dengan simpul senyum diantara kami berdua. Dalam langkah menuju kamar tentu saja pahit rasanya tidak bisa berkuliah di tahun ini, ketika melihat teman-teman yang lainnya sudah melanglang buana mencari pendidikan diri ini masih terhenti tuk menunggu setahun berikutnya. Tapi saya tetap yakin ini yang terbaik. Hari-hari berlalu, hingga masa pembelian formulir peserta SPMB telah tiba, dengan berbekal uang saku saya minggu ini saya memberanikan diri untuk membeli formulir itu supaya ada alasan untuk bisa ikut tes SPMB walaupun masalah kuliah atau tidaknya saya tahun ini masih menjadi rahasia Allah. Memang saya sudah mempersiapkan batin tuk menghadapi hal ini sejak lama karena sudah menjadi mind set yang umum di keluarga besar kami untuk tidak melanjutkan kuliah sebab di seluruh keluarga besar saya belum ada satupun yang pernah mengenyam bangku kuliah. Ayah, ibu, kakak, paman, bibi, keponakan, ataupun sepupu saya tidak ada satupun yang melanjutkan ke jenjang kuliah. Saya menjadi yang pertama yang memberanikan diri hingga sejauh ini tuk melanjutkan ke jenjang kuliah. Walaupun mungkin juga akan meneruskan catatan panjang itu untuk setahun ini.

Hari pengujian SPMB berlalu hingga tiba saat hari pengumuman tiba, saat rasa penasaran menumpuk bercampur dengan rasa takut. Saya memberanikan diri untuk melihat hasil pengumuman SPMB sesegera mungkin bersama dengan Eko Aditya Rifai, teman semeja saya sewaktu SMA. Sungguh sebuah hadiah dari Allah yang luar biasa saat saya melihat nama saya lulus di Fasilkom UI, fakultas yang saya damba-dambakan sejak masuk masa intensif SPMB berbulan-bulan lalu. Kontan rasa haru dan syukur membuncah seketika itu juga. Tak sabar saya langsung kembali ke rumah mengabarkan hal ini dalam peluk haru bersama ibu saya. Ternyata ibu saya terharu sekali melihat anaknya berhasil mendapat apa yang diinginkannya, malam itu menjadi malam penuh syukur bagi kami.

Pagi keesokan harinya saya diajak ayah untuk bicara di ruang tamu, saya sudah menduga bahwa hal yang ingin dibicarakan adalah masalah kuliah saya. Saya sudah mempersiapkan yang terburuk tuk menerima bila memang saya harus menunda kuliah di tahun ini. Rencana untuk memenuhi waktu setahun ini dengan membantu ayah di tokonya sudah tergambar jelas di benak saya. Ternyata kasih orang tua memang tak terkira untuk anaknya, ayah saya kemarin sudah mengusahakan untuk dapat meminjam uang untuk membiayai biaya masuk kuliah saya. Jadilah debat pagi itu terjadi antara saya yang mencoba menolak keputusan itu dan ayah saya yang bersih keras memaksa saya untuk tetap melanjutkan proses registrasi di UI. Akhirnya saya menyerah dan mematuhi keputusan ayah saya. Sungguh sangat bersyukur memiliki orang tua seperti mereka yang pengorbanan untuk anaknnya begitu besar dan nyata.

Singkat cerita proses registrasi baik administratif maupun akademik saya lalui, ternyata saya baru tahu bahwa ada mekanisme pengurangan biaya uang pangkal dengan segala prosedur yang ada di dalamnya. Jadilah hal itu menjadi asa baru bagi saya untuk bisa meringankan beban orang tua saya. Setelah semua persyaratan dipenuhi Alhamdulillah uang pangkal bisa dipotong hingga saya hanya membayar sebesar 40% dan uang BOPB bisa dipotong hingga saya hanya membayar sebesar 50%. Selain itu saya juga dapat keringanan untuk bisa mencicil uang pangkal sebanyak 4 periode kali pembayaran sehingga jumlah uang pinjaman yang harus dipinjam orang tua saya tidak terlalu besar dan memberatkan dalam jangka waktu yang panjang. Lega rasanya akhirnya bisa mengenyam pendidikan di kampus  ini dengan permulaan hanya bermodal keinginan kuat untuk tetap belajar meningkatkan kapasitas diri tuk persiapan pengabdian kelak.

Pengalaman ini menjadi sebuah penguatan bagi saya tuk bisa struggle di kampus ini, memanfaatkan setiap detiknya tuk meningkatkan potensi diri. Pengalaman ini juga bisa menjadi inspirasi dan pelajaran bagi adik-adik semua yang saat ini sedang dalam masa penentuan keputusan untuk kuliah. Jangan sampai keputusan tuk tidak melanjutkan kuliah diambil karena ketidaktahuan kita terhadap sistem pembayaran yang ada di UI. Saya tergabung dengan teman-teman yang concern dengan masalah ini akan dengan senang hati membantu. Sebab terkadang kita hanya perlu keberanian tuk maju melangkah dan biarkan Allah yang membuka pintu-pintu kemudahan dengan ikhtiar kita ini. Jangan putus asa sahabat, kalahkan rasa putus asamu dengan ikhtiar dan perjuanganmu.

Masuk UI? Gue ga takut tuh

Andreas Senjaya, Fakultas Ilmu Komputer UI angkatan 2007

Sumber: ayomasukui.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s