Pertimbangan Memilih Perguruan Tinggi

MESKI jumlah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan jumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN), peminat PTN selalu melonjak. Bahkan, perbedaan kebijakan pemerintah terhadap PTN dan PTS di Indonesia semakin membuat PTS terpinggirkan.  
Menurut Ketua Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABPPTSI) Thomas Suyatno di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad Jatinangor, beberapa waktu lalu, dalam Rancangan Undang-Undang Pendidikan Tinggi (RUU PT), sedikitnya ada lima prinsip yang dilanggar pemerintah sehingga PTS tetap dipinggirkan. Pelanggaran tersebut dilakukan oleh tiga alasan utama, yakni prinsip etatisme (serba negara), diskriminasi antara PTN dengan PTS, dan pembiayaan pendidikan. Hal itulah yang juga menjadi salah satu penyebab terjadinya krisis kebangsaan di Indonesia.

Alasan biaya dan kualitas semakin memperteguh PTN menjadi superior. Padahal jika kita cermati, biaya PTN dan PTS sudah hampir sama. PTN yang dahulunya digadang-gadangkan sebagai perguruan tinggi yang difasilitasi dan dikelola negara dengan biaya terjangkau, nyatanya tetap saja mematok biaya tinggi.

Masalah biaya sebenarnya relatif. Jika calon mahasiswa termasuk orang yang cerdas dan dapat masuk PTN melalui jalur PMDK atau jalur SNMPTN, maka biaya kuliah yang akan dikeluarkan lebih murah bila dibandingkan masuk PTN dengan jalur Ujian Mandiri. Kebanyakan kampus akan meluluskan siswa ujian mandiri yang mematok uang pangkal terbesar. Permainan uang seperti itulah yang sejak lama dilakukan. Calon mahasiswa yang berduit tentu akan meletakkan uang pangkal yang besar untuk menyingkirkan pesaing lainnya.

Dari banyaknya peminat, tidak perlu diragukan lagi bahwa PTN lebih unggul dari PTS. Segala macam jalur penerimaan mahasiswa baru yang selalu ramai tiap tahunnya merupakan bukti nyata bahwa PTN tetap menjadi idaman bagi para penerus pendidikan. Untuk pilihan jurusan, PTS lebih unggul karena PTS mempunyai beragam jurusan yang menarik dibandingkan dengan PTN yang monoton, hanya itu saja. Misalnya Universitas Bina Nusantara, salah satu universitas swasta Indonesia yang berlokasi di Jakarta. PTS tersebut mempunyai jurusan Desain Komunikasi Visual yang jarang dimiliki PTN.

Sementara, kuliah di PTN memberi prestise tersendiri. Kebanggaan dengan almamater kampus negeri pasti dirasakan setiap orang yang telah berhasil lolos dari persaingan ketat jalur SNMPTN. Padahal jika ditinjau dari output, lulusan yang dihasilkan PTN dan PTS pun tidak selalu diunggulkan oleh PTN. Dilihat dari segi kurikulum,  semuanya mengacu pada kurikulum nasional.

Melanjutkan studi ke PTN maupun PTS merupakan pilihan masing-masing individu. Dari segi kualitas, PTS pun tak kalah jauh dari PTN. Bahkan visi keduanya sama-sama mencerdaskan kehidupan bangsa. Tergantung bagaimana mahasiswa tersebut menekuni bidang ilmunya.

Untuk memilih perguruan tinggi yang tepat dan sesuai keinginan, hal utama yang dapat kita lakukan adalah mencari informasi selengkap mungkin mengenai kampus tersebut. Apalagi di era digital dan teknologi yang semakin maju, mencari informasi apa pun semakin mudah layaknya membalikkan telapak tangan. Tinggal klik, semua yang kita butuhkan secepat kilat akan tersedia. Salah satu situs yang memuat secara lengkap tentang  daftar perguruan tinggi dapat dilihat di situs wikipedia maupun situs-situs lain. Cara ini lebih efektif dan efisien tanpa harus mendatangi satu persatu kampus idaman.

Ada beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan. Pertama, ketahui minat dan bakat kita, hal ini kita gunakan untuk menentukan program studi apa yang akan kita pilih. Jika sesuai keinginan, tentu akan mempermudah kita dalam belajar, dan yang terpenting lagi kita akan terpacu untuk segera menyelesaikan studi.

Kedua, pilih kampus yang sesuai dengan bujet orangtua kita. Artinya kita harus pintar-pintar mengalkulasi biaya apa saja yang kita butuhkan saat kuliah nanti. Mulai dari biaya pendidikan di kampus yang terdiri dari biaya pendaftaran, biaya pengembangan gedung, SPP, praktikum, fotokopi maupun beli buku. Jika jarak rumah dan kampus terlalu jauh, kita juga harus pandai menghitung biaya hidup sehari-hari di kos.

Ketiga, status akreditasi.  Status ini diberikan untuk program studi yang diselenggarakan, bukan untuk keseluruhan jurusan pada suatu perguruan tinggi. Status akreditasi ini menentukan kemandirian suatu program studi dalam melaksanakan proses belajar-mengajar dan kurikulum yang digunakan. Jika status akreditasi sudah sangat baik, tentu kualitas pendidikannya tak perlu diragukan lagi.

Terakhir, yang tak kalah penting yaitu prospek. Tidak semua program studi dalam perguruan tinggi menjanjikan prospek pekerjaan setelah lulus nanti. Ada sebagian perguruan tinggi yang memang mempunyai jaringan banyak. Bekerjasama dengan instansi lain untuk mengantarkan mahasiswanya ke dunia kerja. Setidaknya, tidak menjadi pendonor utama penyumbang jumlah pengangguran terdidik yang selalu meningkat tiap tahunnya.

Perlu kita akui, tujuan kita melanjutkan jenjang pendidikan ke perguruan tinggi. Selain untuk belajar, juga untuk memudahkan kita memasuki dunia kerja. Jadi, mengapa kita tidak mempersiapkan masa depan sematang mungkin?

Ulum Minnafiah
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muria Kudus (UMK). Sumber: kampusokezone.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s