Berburu Beasiswa, Nggak Susah-Susah Amat Kok!

Kuncinya, rajin browsing, kumpulkan informasi, lalu jalani semua proses sesuai tenggat waktu, tentunya seoptimal mungkin. Saat ini banyak informasi pertukaran pelajar atau beasiswa luar negeri. Beberapa diantaranya menawarkan beasiswa penuh, yang artinya selain sekolah juga memberi jatah biaya hidup sehari-hari. Beruntung beasiswa saya, Erasmus Mundus External Cooperation Window (EMECW) Lot. 12, termasuk dalam kategori ini.

Sebelumnya, untuk tergabung dalam program kerjasama ini, beberapa kampus di Indonesia mengajukan proposal ke Uni Eropa. Setelah disetujui, bukan hanya mahasiswa S1, namun juga mahasiswa S2, S3, dan karyawan dari kampus tersebut bisa menginjakkan kaki di benua biru.  Masa pendidikan juga beragam, ada yang satu semester, dua semester, bahkan hanya satu bulan untuk program penelitian.

Pertanyaan paling krusial yang pasti ingin diketahui teman-teman, pastilah berapa nominal beasiswa di luar negeri. Jawabannya, tergantung apakah beasiswa kita hanya biaya sekolah, atau mencakup living cost. Biasanya, jika hanya biaya sekolah, kita masih diijinkan mencari side job. Saran saya, lebih baik mencari beasiswa penuh sehingga kita tidak perlu risau mencari pekerjaan dan bisa berkonsentrasi pada pendidikan.  Selain itu, juga tergantung negara yang akan dituju, apakah termasuk negara dengan standar ekonomi tinggi, atau tidak.

Jangan Tunda
Kalau sudah ancang-ancang mempunyai mimpi belajar di luar negeri, up date informasi sangat membantu. Paling tidak, untuk mengetahui deadline berkas administrasi yang diperlukan. Misalnya paspor, motivation letter, surat rekomendasi, formulir, atau visa. Maklum, biasanya kalender akademik di luar negeri berbeda dengan kampus di
Indonesia.

Setelah mengetahui seluruh informasi, jangan menunda pengurusannya. Misalnya berkas administrasi, seperti syarat pembuatan visa, akan membutuhkan waktu yang berbeda tergantung kebijakan negara yang akan dituju.
“Segera saja di urus sebelum terlambat. Saya sempat hampir tidak berangkat karena visa belum jadi. Padahal saya sudah diterima sebuah kampus luar negeri, namun syarat administrasi tetap harus dipenuhi terlebih dahulu. Kalau tidak, beasiswa yang sudah di tangan bisa hangus,” ujar A. Rahman Hakim, teman dari Indonesia yang terlambat
memasuki jadwal kuliah di luar negeri karena terlambat mengurus visa.

Yang paling saya ingat adalah kebingungan membuat motivation letter, dimana kita harus menuliskan alasan mengapa kita layak mendapat beasiswa. Akhirnya, saya mencoba menuliskan study plan sejelas-jelasnya dan sedetail mungkin. Seakan-akan, semua kegiatan di luar negeri telah terjadwal hingga saya tinggal menjalani.

Tidak lupa, karena ini adalah program antar negara, menuliskan apa yang kelak akan saya sumbangkan pada tanah air dan yang akan didapatkan dari negara tersebut.

Nah, yang paling membantu adalah menjalin komunikasi dengan pelajar Indonesia yang telah tersebar di luar negeri sebelumnya, misalnya Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). Saya ingat bagaimana teman-teman yang sebelumnya telah berada di luar negeri membantu permasalahan-permasalahan kecil.

Mereka mengirim petunjuk rute perjalanan dari bandara ke penginapan, memberi gambaran kehidupan di luar negeri, atau mendaftar persiapan bekal dari tanah air yang saya perlukan.

Saran saya, cepat belajar memasak deh. Meskipun tidak mahal, tapi lebih banyak nominal yang bisa disisihkan untuk liburan ke tetangga negara tujuan kita. Maklum, di benua biru, mudah dan murah berkeliling ke
negara tetangga dengan alat transportasi apapun. Maka jangan heran jika ada pelajar Indonesia di satu negara eropa bisa berfoto ria berkeliling benua.

Terbuka
Beberapa teman yang saya amati, awalnya selalu berkelompok dengan sesama teman dari satu negara. Namun lambat laun, mahasiswa di luar negeri umumnya mulai bisa beradaptasi. Meskipun, ada juga yang tetap “lengket” dan tidak lihai berbaur, yang akhirnya bukannya semakin kaya pengetahuan dan lancar berbahasa asing,  justru semakin pintar berbahasa asalnya.

Sementara, suasana belajar di luar negeri memang sedikit berbeda. Interaksi langsung dengan pengajar lebih sedikit karena mereka juga sibuk dengan berbagai penelitian atau proyek. Namun, mereka selalu mengalokasikan waktu jika mahasiswa membutuhkan konsultasi. Otomatis, saya lebih terbiasa berkonsultasi melalui e-mail atau e-learning.
Jangan pernah takut belajar di luar negeri. Masalah seperti perbedaan budaya, bahasa, pergaulan, pasti bisa diatasi pelan-pelan. Yang penting, selalu open mind dengan perbedaan.

Fakta yang saya rasakan, orang-orang di luar negeri cukup ramah membantu orang asing. Mereka juga lebih apresiatif jika kita menunjukkan usaha, misalnya ketika saya terbata-bata dan tidak fasih berbahasa Portugis untuk menanyakan arah suatu tempat, tidak segan mereka mengantarkan saya hingga tiba tempat yang saya maksud. Justru ketakutan terbesar itu ada pada diri kita, memerangi rasa malas dan pesimis untuk mendapatkan kesempatan yang bisa merubah hidup kita ini! (mediaindonesia.com)

_______

Penulis :
Reza Praditya Yudha
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Univ. Muhammadiyah Malang
(Penerima beasiswa EMECW Lot.12 di Univ. Minho-Portugal)
rezapradityayudha@hotmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s