Mari Bentuk Kualitas Diri dengan Berorganisasi

(Jhadi Wijaya, Kontributor Forum Batasa Regional Palembang). “Mahasiswa jangan hanya terbenam dengan kepentingan pribadi. Ketika ada sesuatu yang bertentangan maka  jangan sungkan untuk berkata. Jadi, berkatalah selama kesempatan itu masih ada”.

Organisasi sudah menjadi bagian dalam hidup pria yang bernama lengkap Jhadi Wijaya ini. Anak pertama dari dua bersaudara ini merasa jika meninggalkan organisasi  ada perasaan yang kurang dalam dirinya.  Dia mengakui bahwa pada awal berorganisasi pasti akan timbul perasaan jenuh. Tetapi setelah dijalani nantinya kita kan tahu positif dan negatif dari organisasi tersebut dan apa yang dibutuhkan organisasi itu serta dapat berpengaruh bagi diri kita sendiri.
Karir organisasinya dimulai sejak dia berada di sekolah dasar. Diawali dari lingkup yang terkecil yaitu kelas. Dia pernah menjabat menjadi ketua kelas dari kelas 1 SD hingga kelas 3 SMA. Kurang lebih selama 11 tahun dia menjabat sebagai ketua kelas karena saat kelas 6 SD dia tidak menjabat menjadi ketua kelas.
Saat SMP dia pernah menjabat menjadi ketua pramuka dan juga ketua OSIS.  Selain itu dia juga mengikuti organisasi Majelis Permusyawaran kelas serta pustaka bhayangkara.
Selain organisasi internal sekolah, dia juga mengikuti organisasi eksternal saat menginjak bangku SMA. Dia pernah menjabat menjadi sekretasis umum di organisasi tingkat Kabupaten. Walaupun begitu, dia juga menjabat menjadi Wakil Ketua OSIS serta Ketua bidang di Paskibra. Majelis Permusyawaran dan Rohis juga merupakan organisasi yang digelutinya saat dia SMA.
Tidak berbeda dengan zaman SMA, saat kulia dia juga bergelut dengan banyak organisasi. Di ALSA dia tergabung dalam divisi kaian ilmu hukum. Selain itu, dia juga sempat menjabat menjadi Ketua Departemen Pemuda dan Olahraga di BEM Fakultas Hukum UNSRI. Saat ini sudah hampir tiga tahun dia bergabung dengan BEM UNSRI. Cukup banyak jabatan yang dijalaninya saat bergabung dengan BEM UNSRI, diantaranya Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Pendidikan, serta Kementrian Politik Luar Negeri Divisi Luar Negeri. Dan sekarang dia juga bergabung dalam Badan Otonom Ramah.
Pria bersahaja ini juga mengikuti beberapa organisasi eksternal. Saat di IKMB Unsri dia sempat menjabat sebagai sekretaris umum. Kesatuan Organisasi Kedaerahan juga merupakan organisasi yang diikutinya saat ini.
Dalam skala nasional dia mengikuti Konferensi Energi Mahasiswa Nasional Indonesia yang merupakan bawahan dari BEM Seluruh Indonesia.
Baru-baru ini dia bergabung dalam Forum Bina Talenta Bangsa. Forum yang berpusat di Bandung ini merupakan gerakan  dalam rangka mengajak anak SMA untuk mempersiapakan diri untuk masuk universitas. Setiap daerahnya memiliki beberapa perwakilan, dan untuk wilayah Sumsel ada dua perwakilan yaitu mahasiswa MIPA Unsri angkatan 2007 dan juga dirinya.
“Organisasi berpengaruh dalam pembentukkan karakter atau jati diri dalam setiap melangkah. Mungkin sekarang organisasi belum berarti namun ketika kita tekuni maka dapat membentukkan karakter diri kita sendiri”, ujar pria yang hobi baca ini.
Menurutnya bangsa butuh orang-orang yang berkarakter, orang-orang yang berbeda dengan manusia pada umumnya. Karena hal itu dapat menjadi ciri khas.
Melihat situasi kampus menjadi alasan pertama dia mengikuti organisasi. Pola-pola yang tidak sesuai dengan pikiran yang ada membuat dirinya ingin berorganisasi. “Bisa dikatakan ada ketukan hati”, tambahnya disela-sela wawancara.
Prestasi organisasi yang sangat membanggakan baginya bukan prestasi yang berbentuk fisik atau sebuah penghargaan. Tetapi dapat hadir dan menjalankan organisasi itu smpai sekarang merupakan kebanggaan baginya. Semangat untuk berkiprah dalam organisasi sampai sekarang masih disimpannya.
“Apalah artinya sebuah prestasi fisik apabila tidak ada kontribusi di setiap organisasi yang kita jalani, karena esensi dari organisasi adalah seberapa besar kontribusi kita bukan hanya pada organisasi itu saja tetapi juga pada lingkup organisasi itu berada”, ujarnya menambahkan.
Ketika sudah berada dalam tingkatan universitas . Akan mulai dihadapkan dengan berbagai macam pandangan yang tingkatannya bukan lagi universitas. Saat seseorang  hanya dihadapkan pada orang-orang di lingkup organisasi yang kecil maka dia akan merasa pikirannya terlalu besar, sebaliknya saat seseorang dihadapkan pada orang-orang di lingkup organisasi yang besar maka dia akan menyadari bahwa pikirannya belum seberapa dibandingkan dengan orang lain. Hal inilah yang paling berkesan baginya saat berorganisasi.
Akan selalu ada pasang surut dalam berorganisasi. Terkadang terbersit  dipikiran umum kalau mahasiswa yang bergelut pada organisasi ipk nya pasti kecil.
Secara pribadi fase itu senantiasa sudah dilaluinya dan itu menjadi pelajaran. Menurutnya organisasi sebenarnya tidak ada pengaruh dengan nilai. Ketika kita bisa memposisikan antara yang penting dengan yang kurang penting, maka kita bisa membedakan mana yg perlu dipersiapkan lebih dahulu serta  mana yang bisa di tunda. Intinya hanya pengendalian diri.
Kita terkadang lupa. Ketika kita menyukai  sesuatu kita akan sangat  menyenangi, sebaliknya saat kita tidak menyukai sesuatu kita akan sangat membenci hal tersebut.
Begitu juga dengan organisasi jangan sampai tersesat.  Bahwa hidup bukan hanya untuk organisasi tetapi organisasi sebagai proses untuk membangun hidup.
Nilai yang naik atau turun hanya sebagai  proses tetapi jangan dijadikan alasan akibat organisasi. Dalam proses, semakin jauh kita menikmati maka saat itulah terasa bahwa kita telah melawati proses itu. Jangan takut melewati proses dan jangan pula tebuai akan proses tetap harus ada pengendalian diri.
Sebelum mengakhiri wawancara dengan reporter (Media Sriwijaya, red) dia menyampaikan beberapa pesan. Ketika kita jadi pemuda atau mahasiswa pasti kita punya karakter sebagai pembentuk diri kita, maka sebagai pemuda atau mahasiswa kita harus bisa memposisikan diri.
Terkadang kita lupa bahwa pemuda punya pengaruh besar bagi proses perubahan peradaban. Dengan pikiran-pikiran pemuda keberanian untuk berubah masih akan ada. Maka dari itu alangka baikknya kalau pikiran-pikiran yg masih jernih itu jgn sampai terkotori oleh kepentingan-kepentingan pihak tertentu yang sifatnya sementara atau semu yang kemungkinan bisa menyesatkan.
Sebagai pemuda kita perlu punya kualitas diri. Kualitas diri dibentuk bukan secara otomatis tetapi melalui proses  dan proses itu terkadang didapat tanpa kita sadari. Selama proses disitulah ada peran ilmu. Dengan kita memiliki ilmu kita bisa jadi pembeda dengan yang lainnya . Intinya ilmu membentuk intelektual mahasiswa .
Untuk Fakultas Hukum Unsri semoga dapat lebih maju bukan hanya dari segi kemahasiswaannya tetapi pada seluruh elemen yang ada serta bukan hanya lingkup regional saja namun nasional dan kalau bisa hingga internasional. (Meintari/Mona)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s