Ospek dan Inferioritas Syndrome

Bagi sebagian besar mahasiswa baru, orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) dianggap sebagai momok. Bagaimana tidak, kerap kali kabar yang berkaitan dengan ospek adalah hal-hal yang berhubungan dengan kekerasan, perpeloncoan, tekanan mental dan psikis, dan tak sedikit yang mengalami luka akibat hal-hal itu. Bahkan tiap tahunnya, seperti sebuah kewajiban, kita harus mendengar minimal satu korban jiwa terenggut akibat “monster edukasi” yang bertopengkan ospek ini dari berbagai institusi.
Franky Febryanto Banfatin (dok. pribadi)Terlepas dari tradisi yang kerap diturunkan setiap tahunnya dalam ospek, ini bukanlah budaya yang sengaja dibuat oleh para senior kampus dalam rangka menunjukkan superioritas mereka terhadap adik-adik mahasiswa baru yang harusnya mereka bina. Ospek juga bukan ajang penyambutan mahasiswa baru yang dilakukan seenaknya oleh senior kampus dengan aturan yang tidak jelas. Ada landasan hukum yang jelas dalam penyelenggaraan ospek yakni dari SK Dirjen Dikti No. 38/DIKTI/Kep/2000 tentang Pengaturan Kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru di Perguruan Tinggi, pada dasarnya bertujuan untuk memberikan pengenalan awal bagi mahasiswa baru, baik berkenaan dengan sejarah kampus, lembaga-lembaga yang ada di kampus, jenis kegiatan akademik, sistem kurikulum, cara pembelajaran yang efektif di perguruan tinggi, serta para pemimpin universitas, fakultas dan dosen.

Sesuai dengan surat keputusan tersebut, penyelenggaraan ospek yang intinya adalah penyambutan terhadap mahasiswa baru haruslah difokuskan pada pengenalan, proses adaptasi dan observasi lingkungan kampus yang akan mereka hadapi. Analogikan saja, seseorang yang baru pertama kali masuk ke dalam kolam renang dan hendak belajar renang, maka dia harus beradaptasi dengan kolam, kedalaman kolam dan tata aturan berenang yang benar. Prosesnya perlahan dan bertahap. Pengenalan itu penting, agar tidak salah aturan. Bila terlalu dipaksa, alih-alih orang itu malah akan tenggelam atau bahkan sama sekali tidak akan pernah berani berenang. Seperti itulah mahasiswa baru.
 
Inferioritas syndrome

Mayoritas panitia ospek yang dipercaya menjalankan penyelenggaraan ospek sudah mengerti mengenai prinsip dasar penyelenggaraan ospek. Namun, tetap saja mereka menjadikan otonomi kampus atau fakultas sebagai “ajang kreativitas” ospek. Berbagai hal “unik” dan “aneh” dimasukkan sebagai pemanis kegiatan penyambutan mahasiswa baru tanpa mengindahkan esensi dasar penyelenggaraan kegiatan ini. Sebut saja, ritual membawa barang-barang aneh, makanan minuman yang kurang jelas, hingga hukuman fisik akan kesalahan-kesalahan yang sesungguhnya tidak fatal.

Hal ini terjadi karena inferiotas syndrome bangsa kita yang sudah mengakar. Mentalitas terjajah. Budaya tertindas sehingga ada kemungkinan bagi kita untuk membalik menjajah bangsanya sendiri. Itulah gambaran kecil bangsa kita yang terlihat di masa-masa awal perkuliahan. Selain itu, egosentrisme, superiotas senioritas dan eksistensialisme yang berlebihan yang masih menjadi gairah remaja pemuda bangsa Indonesia sangat sulit diredam, sehingga  menimbulkan permainan ospek yang berlebihan. Ya, inilah cerminan pemuda bangsa kita saat ini. Masih belum dewasa secara mental. Jangan sampai ini terus dipelihara, mari kita ubah.
 
Kekerasan bukanlah solusi

Kekerasan yang sering terjadi dalam ospek acapkali dijadikan alasan untuk memperkuat mental mahasiswa baru dan menegakkan kedisiplinan. Namun, kekerasan yang terjadi seringkali terlalu berlebihan, sama sekali tidak mendidik dan lebih cenderung mengarah kepada pelecehan baik secara fisik maupun secara verbal. Sebenarnya, ada pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi. Namun panitia, yang sudah bisa disebut cendikia-cendikia muda ini, seperti mendisfungsikan otak mereka terhadap wawasan HAM karena terlalu terjebak permainan kepuasan dan emosional senioritas. Miris sekali.

Adalah hal yang sangat wajar bila mahasiswa baru melakukan banyak kesalahan dalam kegiatan ospek. Itulah proses adaptasi, tidak ada yang sempurna. Hukuman terhadap kesalahan yang ada memang baik untuk mendisiplinkan seseorang, namun kekerasan bukanlah solusi. Mahasiswa baru hanya akan menimbulkan kebencian terpendam terhadap senior yang menghukumnya secara berlebihan. Kondisi ini malah akan semakin memperburuk, bukan memperkuat mental.

Kekerasan secara verbal juga tidak menunjukkan kita sebagai kaum terdidik. Hal itu malah akan semakin memperburuk citra. Mahasiswa baru justru cenderung akan meniru hal yang sama ketika memasuki perkuliahan nanti karena dirasa berucap kasar adalah hal yang biasa dan wajar dilakukan di kampus. Mereka mengadaptasi contoh yang buruk. Ya, jadi jangan heran jika banyak generasi muda yang diharapkan akan menjadi penerus bangsa ini sekarang cenderung anarkis dan menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan mereka.

Ospek Kreatif Positif

Di luar tujuan dasar penyelenggaraan kegiatan penyembutan mahasiswa baru, ospek bisa saja diolah lebih kreatif oleh panitia. Inilah sarana pengakraban dengan seluruh civitas academica dan pengenalan jati diri mereka lebih dalam. Kekerasan sebisa mungkin diminimalisasi saja. Pembinaan mental dan pendisiplinan diri bisa menggunakan cara yang lebih kreatif dalam tugas-tugas kelompok yang lebih menekankan pada kerjasama tim, perencanaan penyelesaian tugas hingga pengelolaan waktu. Kita juga harus menjadikan mereka lebih aktif dibandingkan panitia sendiri, hal ini untuk melihat penghargaan panitia terhadap mereka. Pun, mereka akan mampu mengaktualisasikan diri dan potensi dalam setiap kegiatan yang ada.

Keseimbangan harmoni secara fisik, spiritual, finansial, relasi, dan intelektualitas adalah hal penting yang harus diajarkan juga kepada mahasiswa baru untuk mencapai kesuksesan dan hal ini dapat diselipkan juga dalam outbound atau training kepemimpinan untuk mengakrabkan mahasiswa baru. Mengenalkan mereka terhadap Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat juga dapat dijadikan acuan dasar dalam pemberian tugas-tugas agar mahasiswa baru dapat menyadari benar apa fungsi mereka sebagai mahasiswa dan untuk apa mereka kuliah. Mari jadikan ospek lebih baik dan positif. (kampus.okezone.com)

Franky Febryanto Banfatin
Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)
Universitas Sumatera Utara (USU), Medan

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s