Wahai Sarjana, Mana Nyalimu?

Kukisahkan padamu para praktisi pendidikan di perguruan tinggi. Utak-atik Indeks Prestasi Kumulatif dalam transkrip nilai seorang sarjana masih debatable (dapat diperdebatkan). Perdebatan yang saya maksud tentang tidak adanya jaminan sarjana yang ber-IPK tinggi mendapatkan pekerjaan. Hampr-hampir saya katakan: IPK tinggi, IPK rendah, probabilitasnya sama dalam memeroleh pekerjaan.

Gampang-gampang susah menggunakan parameter IPK untuk sebuah prestasi akademik. Persoalannya kalau PT tidak menggunakan IPK, lantas kita pakai parameter apa?. Ah sudahlah, toh IPK bagi seorang sarjana merupakan relatifitas dalam mencari kerja. Lagian jenis pekerjaan juga, saya tidak sertakan. Namun, sesuai sosbud kita, yang disebut bekerja cenderung ke PNS atau Swasta (bonafid).

1341569440501877772

Asal muasal gambar: yahoogroup.com. Saya tertarik dengan picture ini sebab saya juga pernah melakukannya

Untuk itu, saya pribadi tak terlalu risau dengan IPK mahasiswa saya jika dihubungkan dengan pencarian kerja. Banyak ber-IPK di atas 3,0 (Tiga Koma Nol), toh jadi penenteng map kesana kemari, pun sebaliknya. Ber-IPK di bawah 3,0 (Tiga koma nol) tapi ia malah bekerja di sebuah institusi pemerintahan ataupun swata.

Saya malah lebih dominan mengamat-amati proses ujian skripsi setiap mahasiswa(i), maka saya berhipotesa: untuk memprediksi seorang sarjana cepat bekeja atau tidak, maka saya perhatikan saat mereka ujian skripsi. Keyakinan saya yg subyektif, ketika seorang mahasiswa bernyali dalam ujian skripsi, maka saya menilai bahwa ini adalah cerminan ketika suatu saat ia mencari kerja. Mahasiswa-mahasiswa yang sangat detail menampilkan penyajian dalam skripsinya -huruf, penyertaan statistik, dll- yang saya anggap sebagai performance fisik sebuah skripsi. Ini akan menjadi sketsa ketelitian jika kelak ia bekerja.

* * *

Singkat saja, seorang mahasiswa akhir yang ngotot mempertahankan skripsinya, berusaha meyakinkan dosen pengujinya dengan frame tetap di jalur ilmiah. Sarjana seperti ini, saya tak pernah ragu akan nasibnya, sebab ia mampu mengapresiasi dan meloloskan diri atas ujian yang sedang dijalaninya. Ujian skripsi adalah ujian indoor,sedang mencari pekerjaan merupakan salah satu jenis ujian out-door.

Cermin dalam ujian in-door tak akan jauh beda ketika mereka melanjutkan ujian out-door. Nyali yang lemah pada saat ujian skripsi, pun tak akan jauh-jauh dengan caranya menghadapi ujian out-door. Ketika di sebuah kantor bertuliskan “TIDAK ADA LOWONGAN KERJA”. Maka yang bersangkutan balik badan, pulang, dan tak berusaha mencari tahu kenapa tidak ada lowongan kerja di kantor tersebut.

Sebaliknya bagi yang telah melulusi kesarjanaannya dengan cara tegas, kreatif, peduli terhadap budaya akademik plus kepuasan akademik, maka orang-orang inipun akan melanjutkan cara-cara fighting dalam pencarian kerja. Esensi dalam artikel ini bahwa nyali seorang calon sarjana mutlak dibutuhkan, dan nyali dalam mencari kerja lebih wajib lagi dimiliki oleh seorang sarjana.

Sepenggal Kisah

Saya tak bohong, bukan pula berprilaku bak seseorang yang patut ditiru. Sungguh saya kisahkan sesingkatnya untuk berbagi manfaat. Kala itu, Prof.Basri Hasanuddin -mantan menko kesra- menjabat sebagai rektor Universitas Hasanuddin, Saya butuh sebuah tandatangan dari beliau. Saya hendak temui beliau di ruang kerjanya di rektorat, kata sekretarisnya: “Bapak ke Jakarta”. Saya balik nanya: : “Kapan Bapak pulang?”. Sekretaris itu tak tahu. Aneh juga terasa ada sekretaris hanya tahu Bosnya pergi tapi tak tahu kapan pulangnya.

Jalan terbaik bagiku adalah mendatangi rumah jabatannya di Jalan Kartini, Makassar. Saya langsung ke satpam dan pertanyaanku sama: “Ada Pak Rektor?”. “Ke Jakarta Dek?”. “Kapan pulang?”, “Wah kita tidak tahu Dek”. Lima hari berturut-turut, saya sambangi satpam ini sampai akhirnya satpam memberitahu bahwa Pak Rektor sudah datang.

Duduklah saya di teras rujab rektor Unhas itu, banyak tamu VVIP/VIP datang dan pergi. Saking lamanya, saya terkantuk-kantuk menunggu lowongnya waktu Sang Rektor. Ha?. Ini sudah jam 5 sore?. Wah lama juga saya habiskan waktu menantikan Pak Rektor. Dari jam 11 siang saya duduk di teras itu.

Masuklah saya, Pak Rektor memakai baju tennes dan sudah siap-siap berolahraga. Ini takboleh terjadi, takkan kubiarkan beliau pergi meninggalkanku. Saya intip, beliau sedang pakai sepatu. Saya hampiri beliau. Tentunya minta maaf sebelumnya.

“Saya mau minta tolong Pak rektor. Saya mau minta tandatangan Pak Rektor”.
“Untuk apa?”, jawabnya singkat.
“Saya mau gunakan untuk mencari kerja”.
“Kenapa di rumah. Di kampus saja”, sepertinya dia tak berkenan
“Maaf Pak Rektor. Saya ke sini sudah lima kali. Lima hari berturut-turut”
“Jam berapa ke sini tadi?”
“Jam 11 Prof”
Beliau menatapku berkaca-kaca, ada apakah sehingga beliau menatapku seperti ini?. Adakah yang aneh pada penampilanku atau caraku bertutur?.

Beliau raih map di tanganku, beliau ambil pulpen di mejanya, beliau duduk, membuka map saya. Beliau bubuhi tandatangan. Beliaupun berkata: “Saya suka karaktermu, saya suka mentalmu. Tidak mudah menyerah, tidak manja, ulet”.  Ucapan dari bibir Sang Rektor ini membuatku tersanjung, Masih banyak ucapan beliau yang memujiku atas kegigihan ini. Yang paling kuingat ucapan beliau adalah:  “Sukses senang berkenalan dengan orang yang punya nyali. Dan kau miliki itu”. (edukasi.kompasiana.com)

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s