Bimbingan Murid Berbakat dan Murid Lambat Belajar

A.    Murid Akselerasi, Inkluisi, dan Cerdas Berbakat

1.      Murid Akselerasi
Pembelajaran Akselerasi (Accelerated learning) sudah berkembang sejak 1970. Ide pembelajaran ini berangkat dari hasil temuan Dr. Lozanov pada tahun 1950 yang menangani pasien gangguan psikologis dengan teknik-teknik sugesti dan menenangakan mereka dengan musik barok (abad 17). Teknik ini berhasil menyembuhkan pasien tersebut dan Dr. Lazanov menyebut ini sebagai ”cadangan pikiran yang tersembunyi”. Kemudian Dr. Lozanov mengadakan penelitian ilmu jiwa untuk memberi sugesti kepada siswa dalam pembelajaran. Dengan mengaktifkan cadangan gelombang otak pada siswa dan keberadaan jiwa dalam memimpin pribadi membuat konsentrasi, mental, disiplin dan perenungan dengan musik dalam keadaan yang rilek untuk meningkatkan memori. Ternyata siswa dapat menyerap perlajaran bahasa asing lebih cepat, musik, sugesti positif, mainan anak-anak memungkinkan selain pembelajaran cepat juga jauh lebih efektif.
Pembelajaran Akselerasi (Accelerated Learning/AL) adalah salah satu cara belajar alamiah yang menggugah sepenuhnya kemampuan belajar para pebelajar, membuat belajar lebih menyenangkan dan memuaskan serta memberikan sumbangan sepenuhnya pada kebahagiaan, kecerdasan, kompetensi dan keberhasilan. Ciri dari Accelerated Learning adalah mementingkan tujuan, bekerja sama, luwes, gembira, banyak cara, melibatkan emosional dan multi indrawi, serta mengutamakan hasil.
Pembelajaran Akselerasi (Accelerated Learning/AL) merupakan pendekatan yang sistematis terhadap pengajaran untuk seluruh orang yang berisi elemen-elemen khusus, yang ketika digunakan bersama mendorong siswa untuk belajar lebih cepat, efektif dan menyenangkan (Bobby Deporter). Tujuan AL adalah menggugah sepenuhnya kemampuan belajar para pelajar, membuat belajar menyenangkan dan memuaskan bagi mereka dan memberikan sumbangan sepenuhnya pada kebahagiaan, kecerdasan, kompetensi dan keberhasilan mereka sebagai manusia.
Prinsip-Prinsip Pembelajaran Akselerasi
Meier (2002) dan Rose (2003) mengungkapkan prinsip-prinsip Accelerated Learning (AL), yaitu:
1.      Belajar melibatkan seluruh pikiran dan tubuh.
2.      Belajar adalah berkreasi bukan mengkonsumsi.
3.      Kerja sama membantu proses belajar.
4.      Pembelajaran berlangsung pada berbagai tingkatan secara Simultan..
5.      Belajar berasal dari mengerjakan pekerjaan itu sendiri (dengan umpan balik).
6.      Emosi positif sangat membantu pembelajaran.
Elemen-Elemen Pembelajaran Akselerasi. Agar Pembelajaran AL efektif maka dibutuhkan elemen-elemen khusus, yakni:
1.      Lingkungan Fisik, perlu diciptakan lingkungan pembelajaran yang nyaman.
2.      Musik, dapat membantu siswa rileks dan fokus.
3.      Gambar-gambar yang bermakna, informasi atau sugesti yang diberikan oleh gambar-gambar di kelas mampu memberikan uraian yang sesuai dengan topik.
4.      Guru, kemampuan suara (tekanan dan intonasi) dapat digunakan untuk menangkap perhatian siswa dan menekankan poin utama.
5.      Keadaan Positif, sapaan dan suara yang ramah, penggunaan bahasa yang memotivasi dapat memperlancar dan menambah daya ingat siswa.
6.      Seni dan drama, tujuannya adalah agar pembelajaran lebih hidup.
Langkah-langkahPembelajaranAkselerasi.
Ada enam langkah menurut Collin Rose disingkat dengan KUASAI, yaitu:
K   = Kuasai pikiran untuk sukses.
U   = Uraikan faktanya.
A   = Apa maknanya.
S    = Sentakkan ingatan.
A   = Ajukan yang diketahui.
I     = Instrospeksi.
Bentuk Penyelenggaran Pembelajaran Akselerasi
1.      Program khusus, siswa yang memiliki kecerdasan luar biasa bersama dengan siswa bekemampuan biasa.
2.      Kelas khusus, siswa yang memiliki kemampuan luar biasa ditempatkan pada kelas khusus.
3.      Sekolah khusus, siswa yang belajar di sekolah ini adalah mereka yang hanya memiliki kemampuan dan kecerdasan yang luar biasa
Ada banyak hal yang turut mendukung berhasil-tidaknya program ini. Yakni sarana dan prasarana termasuk di dalamnya guru dan buku. Pada kelas ini guru harus memiliki kualifikasi dan kemampuan khusus, berkualitas, berpengalaman, mendapat pelatihan dan selalu siap agar dapat menyesuaikan diri dengan siswanya. Di daerah, jumlah guru yang memenuhi kualifikasi relatif sedikit, dan agak sulit untuk mendatangkan guru dari luar sekolah. Sebab harus mengeluarkan dan menambah anggaran tambahan untuk keperluan itu. Selain itu, buku yang digunakan di kelas ini diambil dari berbagai sumber, tidak berpatokan pada buku itu saja termasuk internet bisa dijadikan acuan sumber informasi. Semua ini jarang sekali dimiliki sekolah yang ada di daerah.
Orang tua yang siswanya masuk kelas akselerasi umumnya sangat mendukung dan antusias. Ini dibuktikan dengan kesanggupan pembayaran uang SPP lebih besar dari siswa. Sebagian uang itu digunakan untuk membayar honor tambahan guru yang mengajar di kelas akselerasi.
2.      Murid Inklusi
Pendidikan inklusi adalah termasuk hal yang baru di Indonesia umumnya. Ada beberapa pengertian mengenai pendidikan inklusi, diantaranya adalah pendidikan inklusi merupakan sebuah pendekatan yang berusaha mentransformasi sistem pendidikan dengan meniadakan hambatan-hambatan yang dapat menghalangi setiap siswa untuk berpartisipasi penuh dalam pendidikan. Hambatan yang ada bisa terkait dengan masalah etnik, gender, status sosial, kemiskinan dan lain-lain. Dengan kata lain pendidikan inklusi adalah pelayanan pendidikan anak berkebutuhan khusus yang dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
Salah satu kelompok yang paling tereksklusi dalam memperoleh pendidikan adalah siswa penyandang cacat. Tapi ini bukanlah kelompok yang homogen. Sekolah dan layanan pendidikan lainnya harus fleksibel dan akomodatif untuk memenuhi keberagaman kebutuhan siswa. Mereka juga diharapkan dapat mencari anak-anak yang belum mendapatkan pendidikan.
1.      KlasifikasiAnakBerkebutuhanKhusus
Pengelompokan anak berkebutuhan khusus dan jenis pelayanannya, sesuai dengan Program Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Tahun 2006 dan Pembinaan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Pendidikan adalah sebagai berikut :
a.       Tuna Netra
b.      Tuna Rungu
c.       Tuna Grahita: (a.l. Down Syndrome)
d.      Tuna Grahita Ringan (IQ = 50-70)
e.       Tuna Grahita Sedang (IQ = 25-50)
f.       Tuna Grahita Berat (IQ < 25)
g.      Tuna Daksa
h.      Tuna Laras (Dysruptive)
i.        Tuna Wicara
j.        Tuna Ganda
k.       HIV AIDS
2.       Gifted : Potensi kecerdasan istimewa (IQ > 125 ) J. Talented : Potensi bakat istimewa (Multiple Intelligences : Language, Logico mathematic, Visuo-spatial, Bodily-kinesthetic, Musical, Interpersonal, Intrapersonal, Natural, Spiritual).
3.      Kesulitan Belajar (a.l. Hyperaktif, ADD/ADHD, Dyslexia/Baca, Dysgraphia/Tulis, Dyscalculia/Hitung, Dysphasia/Bicara, Dyspraxia/ Motorik)
4.      Lambat Belajar ( IQ = 70 –90 )
5.      Autis
6.      Korban Penyalahgunaan Narkoba
7.      Indigo
1. Pendekatan secara kurikulum nasional dikaitkan dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Kurikulum pendidikan nasional yang diterapkan saat ini ternyata sangat menyulitkan anak-anak yang berkebutuhan khusus (ABK), seperti yang terjadi di sekolah-sekolah inklusi. Kebutuhan sekolah inklusi ini bukan kurikulum yang berfokus bagaimana mengarahkan siswa agar sesuai harapan standar kurikulum yang berangkat dari sekedar bagaimana mengatasi keterbatasan siswa, tetapi berangkat dari penghargaan, optimisme dan potensi positif anak yang berkebutuhan khusus.
Tetapi kenyataan yang ada sekarang, kurikulum pendidikan nasional masih kaku, arogan dan tidak mau mengalah. Bahkan terhadap siswa yang termasuk Anak Berkebutuhan Khusus, dimana siswanyalah yang harus mengalah dan menyesuaikan diri, bukan kurikulum yang menyesuaikan diri dengan potensi siswa. Kondisi tersebut sangat menyulitkan anak-anak berkebutuhan khusus yang berada dalam kelas inklusi.Selain kurikulum yang menjadi hambatan bagi pengembangan sekolah inklusi adalah, banyak guru yang masih belum memahami program inklusi. Kalaupun ada yang paham, keterampilan untuk menjalankan sekolah inklusi, itupun masih jauh dari harapan. Bahkan ketersediaan guru pendamping khusus juga belum mencukupi. Salah satu program, mendesak yang harus dikuasai guru dalam program sekolah inklusi tersebut adalah menambah pengetahuan dan ketrampilan deteksi dini gangguan dan potensi pada anak. Pendidikan inklusi berarti juga harus melibatkan orang tua secara bermakna dalam proses perencanaan, karena keberhasilan pendidikan inklusi tersebut sangat bergantung pada partisipasi aktif orang tua bagi pendidikan anaknya.
2.      Paradigma/ Pandangan Masyarakat Terhadap Pendidikan Inklusi
Pendidikan inklusi memang tidak popular dalam masyarakat. Masyarakat hanya disibukan dengan urusan meningkatkan kualitas pendidikan secara horizontal maupun vertical. Sehingga anak bangsa yang memiliki kebutuhan yang terbatas ini sering termarginalkan (kaum yang tersisih). Pelayanan pendidikan ini memang memerlukan sarana dan prasarana yang cukup besar tapi bukan berarti harus ditinggalkan karena mereka mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Kita harus meninggalkan persepsi konvensional bahwa anak dengan berkebutuhan terbatas misalnya untuk anak tuna netra hanya dicetak menjadi Tukang Pijat.
3.      Pentingnya Pendidikan Inklusi
Pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia untuk menjamin keberlangsungan hidupnya agar lebih bermartabat. Karena itu negara memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu kepada setiap warganya tanpa terkecuali termasuk mereka yang memiliki perbedaan dalam kemampuan (difabel) seperti yang tertuang pada UUD 1945 pasal 31 (1). Namun sayangnya sistem pendidikan di Indonesia belum mengakomodasi keberagaman, sehingga menyebabkan munculnya segmentasi lembaga pendidikan yang berdasar pada perbedaan agama, etnis, dan bahkan perbedaan kemampuan baik fisik maupun mental yang dimiliki oleh siswa. Jelas segmentasi lembaga pendidikan ini telah menghambat para siswa untuk dapat belajar menghormati realitas kehidupan dalam masyarakat.
Pendidikan inklusi adalah hak asasi manusia, di samping merupakan pendidikan yang baik dan dapat menumbuhkan rasa sosial. Itulah ungkapan yang dipakai untuk menggambarkan pentingnya pendidikan inklusi. Ada beberapa argumen di balik pernyataan bahwa pendidikan inklusi merupakan hak asasi manusia: (1) semua anak memiliki hak untuk belajar bersama; (2) anak-anak seharusnya tidak dihargai dan didiskriminasikan dengan cara dikeluarkan atau disisihkan hanya karena kesulitan belajar dan ketidakmampuan mereka; (3) orang dewasa yang cacat, yang menggambarkan diri mereka sendiri sebagai pengawas sekolah khusus, menghendaki akhir dari segregrasi (pemisahan sosial) yang terjadi selama ini; (4) tidak ada alasan yang sah untuk memisahkan anak dari pendidikan mereka, anak-anak milik bersama dengan kelebihan dan kemanfaat untuk setiap orang, dan mereka tidak butuh dilindungi satu sama lain (CSIE, 2005).
Adapun alasan-alasan di balik pernyataan bahwa pendidikan inklusi adalah pendidikan yang baik: (1) penelitian menunjukkan bahwa anak-anak akan bekerja lebih baik, baik secara akademik maupun sosial, dalam setting yang inklusi; (2) tidak ada pengajaran atau pengasuhan dalam sekolah yang terpisah/khusus yang tidak dapat terjadi dalam sekolah biasa; (3) dengan diberi komitmen dan dukungan, pendidikan inklusi merupakan suatu penggunaan sumber-sumber pendidikan yang lebih efektif. Dan argumen-argumen dibalik pernyataan bahwa pendidikan inklusi dapat membangun rasa sosial: (1) segregasi (pemisahan sosial) mendidik anak menjadi takut, bodoh, dan menumbuhkan prasangka; (2) semua anak membutuhkan suatu pendidikan yang akan membantu mereka mengembangkan relasi-relasi dan menyiapkan mereka untuk hidup dalam arus utama; dan (3) hanya inklusi yang berpotensi untuk mengurangi ketakutan dan membangun persahabatan, penghargaan dan pengertian (CSIE, 2005).
Pertimbangan filosofis yang menjadi basis pendidikan inklusi paling tidak ada tiga. Pertama, cara memandang hambatan tidak lagi dari perspektif peserta didik, namun dari perspektif lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah harus memainkan peran sentral dalam transformasi hambatan-hambatan peserta didik. Kedua, perspektif holistik dalam memandang peserta didik. Dengan perspektif tersebut, peserta didik dipandang mampu dan kreatif secara potensial. Sekolah bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan di mana potensi-potensi tersebut berkembang. Ketiga, prinsip non-segregasi. Dengan prinsip ini, sekolah memberikan pemenuhan kebutuhan kepada semua peserta didik. Organisasi dan alokasi sumber harus cukup fleksibel dalam memberikan dukungan yang dibutuhkan kelas. Masalah yang dihadapi peserta didik harus didiskusikan terus menerus di antara staf sekolah, agar dipecahkan sedini mungkin untuk mencegah munculnya masalah-masalah lain (UNESCO, 2003).
Ada tiga langkah penting menuju inklusi yang nyata: komunitas, persamaan dan partisipasi. Semua staf yang terlibat dalam pendidikan merupakan suatu komunitas yang memiliki visi dan pemahaman yang sama tentang pendidikan inklusi, baik konsep dan pentingnya maupun dasar-dasar filosofis. Setiap anggota komunitas memiliki persamaan (hak yang sama), dan karena itu sama-sama berpartisipasi dalam mengembangkan pendidikan inklusi, sejak dari perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasinya. Dalam pendidikan inklusi, sistem sekolah tidak berhak menentukan tipe peserta didik, namun sebaliknya sistem sekolah yang harus menyesuaikan untuk memenuhi kebutuhan semua peserta didik. Terkait dengan ini, ada ungkapan bahwa komunitas (semua staf yang terlibat dalam pendidikan inklusi) ‘melampaui dan di atas’ (over and above) kurikulum (UNESCO, 2003).
4.      Model Kelas Inklus
Direktorat PLB (2007: 7) menjelaskan tentang penempatan anak
 berkelainan di sekolah inklusi dapat dilakukan dengan berbagai model sebagai berikut:
1.      Kelas reguler (inklusi penuh)
Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) sepanjang hari di kelas reguler dengan menggunakan kurikulum yang sama.
2.      Kelas reguler dengan cluster
Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal)
di kelas reguler dalam kelompok khusus.
3.      Kelas reguler dengan pull out
Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler namun dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke ruang sumber untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.
4.      Kelas reguler dengan cluster dan pull out
Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler dalam kelompok khusus, dan dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke ruang sumber untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.
5.      Kelas khusus dengan berbagai pengintegrasian
Anak berkelainan belajar di dalam kelas khusus pada sekolah reguler, namun dalam bidang-bidang tertentu dapat belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler.
6.      Kelas khusus penuh
Anak berkelainan belajar di dalam kelas khusus pada sekolah reguler.
Pelayanan anak inklusi
Pelayanan inklusi merupakan gerakan  normalisasi juga merupakan pelayanan integrasi dan juga pelayanan mainstreming. Pelayanan anak luar biasa pada awalnya berorientasi pada medis biologis, tetapi saat sekarang ini pelayanan berorientasi pada ekologis.(Muhammad Amier 1994). Pelayanan ekologis ditangani oleh team dan pelayanan sedapat mungkin dinormalisasi. Menurut Daniel P.Hallan ,James M. Kuffman(1988) dinyatakan bahwa dasar filosofis normalisasi adalah setiap orang luar biasa sedapat mungkin diberikan pendidikan dan lingkungan hidup normal.
Dalam pelayanan anak luar biasa normalisasi terkait dengan sistem integrasi dan mainstrain. Istilah integrasi dapat digunakan dalam sekolah reguler, dapat pula dalam sekolah konvensional. Pada sekolah reguler anak luar biasa diintegerasikan dengan anak normal , tetapi dilayani oleh guru yang profesional dalam melayani anak luar biasa.
Mainstreaming berasal dari kata mainstream yang berarti  masyarakat umum(Sunardi,1996). Pada layanan mainstreaming berarti melayani anak luar biasa di dalam sekolah umum. Hal ini berarti  bahwa anak luar biasa diberi kesempatan untuk berpratisipasi seluas mungkin dalam sekolah umum sesuai dengan potensi kemampuannya . Jika anak ini memerlukan tambahan pengajaran, ia dilayani oleh guru khusus dalam kelas sumber.
Gerakan mainstreaming merupakan gerakan normalisasi sebab gerakan mainstreaming merupakan untuk menempatkan anak luar biasa  bersama anak normal .Gerakan mainstreaming merupakan gerakan yang menunjukan inklusi  pada anak luar biasa dalam proses pendidikan umum. Anak berkesulitan belajar dalam lingkungan yang  konsisten dengan kebutuhan akademik,sosial dan fisiknya. Latar (setting) yang demiki an disebut lingkungan  tidak terbatas (Lease Restrictive enviroment)
Pelayanan inkluisi  juga dikenal dengan menempatkan anak pada lingkungan tidak terbatas.Safhon  dan shevien dalam O Neil mengartikan pwlayanan inklusi sebagi sistem  layanan anak luar biasa  yang mempersyaratkan agar semua anak luar biasa dilayani di sekolah-sekolah terdekat dikelas biasa bersama-sama anak-anak seusianya. Sekolah perlu diinstruksikan agar setiap anak dapat berpartisipasi penuh dalam proses belajar mengajar . Struksisasi ini harus memengkinkan anak mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.
Strainback dan stain back (1990) menjelaskan bahwa sekolah inkluisi adalah sekolah yang menampung semua murid di kelas yang sama. Sekolah ini memberi kesempatan yang sama pada setiap kelas yang sama. Setiap anak diberi kesempatan untuk saling membantu, saling  , menolong, saling menerima karakteristik yang berbeda-beda.kemampuan dan kesempurnaan baik sifat , fisik maupun psikisnya.
Menurut Stanb dan Peck(1994/1995) pelayanan inklusi merupakan penempatan anak luar biasa dalam katagori berat,sedang, ringan secara penuh di kelas biasa. Dari ketiga definisi tersebut dapat dinyatakan bahwa pada prinsipnya (1) anak luar  biasa dilayani bersama dalam satu kelas anak normal. (2) Untuk anak luar biasa dalam kelas biasa sekolah perlu direkturisasi.(3) Hubungan antara anak dan hubungan dengan guru saling menerima , saling membantu, saling kerja sama agar keberhasilan belajar dapat tercapai secara maksimal.(4) Pelayanan inkluisi memungkinkan anak luar biasa dalam katagori ringan, sedang, dan berat dapat dilayani dalam satu kelas.
3.      Murid Cerdas Berbakat
Pendidikan menurut Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional adalah “usaha sadar yang dilakukan untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, atau latihan agar peserta didik tersebut berperan dalam kehidupan masa depannya”. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) melalui kegiatan pengajaran.
Berdasarkan definsi pendidikan sebagaimana kutipan di atas, maka selain pengajaran dan latihan dalam pendidikan juga diperlukan adanya bimbingan. Bimbingan adalah bagian penting dari pengajaran, sebab upaya pengajaran tanpa bimbingan adalah bukanlah pengajaran yang ideal. Salah satu bentuk bimbingan yang perlu dilakukan adalah terhadap anak yang cerdas dan berbakat. Hal ini penting karena kenyataan bahwa anak cerdas dan berbakat mempunyai kebutuhan luar biasa dan kehausan akan ilmu pengetahuan, memerlukan perhatian khusus dalam pengembangan potensinya.
Upaya peningkatan bimbingan terhadap siswa cerdas dan berbakat adalah juga sebagai konsekuensi dari tujuan pendidikan untuk memberikan pelayanan pada peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan maupun sesuai dengan kondisi dan kebutuhan lingkungannya. Maka pelayanan pendidikan khusus bagi mereka yang cerdas dan berbakat sudah merupakan suatu tuntutan, sebab jika mendapat pembinaan yang tepat yang memungkinkan mereka mengembangkan kecerdasan dan keberbakatan serta kemampuan mereka secara utuh dan optimal mereka dapat memberi sumbangan yang luar biasa kepada masyarakat. Jika tidak mereka akan menjadi underachiever dan hal ini tidak saja merugikan dirinya, tetapi juga merugikan masyarakat yang kehilangan bibit unggul untuk pembangunan bangsa.
Siswa cerdas dan berbakat tumbuh dari proses interaktif antara lingkungan yang merangsang kemampuan pembawaan dan prosesnya. Bimbingan dan pengembangan potensi pembawaan ini akan paling mudah dan efektif jika dimulai sejak usia dini dan memerlukan perangsangan serta tantangan seumur hidup agar dapat mencapai perwujudan (aktualisasi) pada tingkat tinggi dengan kata lain siswa cerdas dan berbakat memerlukan program yang sesuai dengan perkembangannya.
Untuk mendukung upaya bimbingan terhadap siswa cerdas dan berbakat, maka perlu dirancang program bimbingan khusus agar mereka dapat menunjukkan peningkatan yang nyata dalam prestasi sehingga tumbuh rasa kompetensi dan rasa harga diri. Dengan pogram khusus mereka belajar lebih efisien, mereka mengembangkan keterampilan, memecahkan masalah dengan baik dan mampu melihat solusi dari berbagai sudut pandang. Mereka dapat menggunakan pengetahuan mereka sebagai latar belakang untuk belajar tanpa batas.
Beradasarkan konfigurasi pemikiran diatas, mendorong penulis untuk melakukan penulisan tentang upaya peningkatan bimbingan terhadap siswa cerdas dan berbakat, dengan harapan para guru dan orang tua dapat lebih meningkatkan bimbingan terhadap para siswa yang teridentifikasi memiliki kecerdasan dan keberbakatan, dengan membuat rancangan program dalam rangka memenuhi kebutuhan mereka, sehingga dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kecerdasan dan keberbakatan yang dimilikinya.
B.     Murid Berbakat
1. Pengertian
Istilah murid berbakat merupakan terjemahan dari “gifted” yang berarti kemampuan intelektual tinggi. Jadi murid berbakat adalah murid yang memiliki kemampuan intelektual atau taraf inteligensi yang unggul. Dengan keunggulan ini ia di harapkan memiliki peluang besar untuk mencapai prestasi tinggi dan menonjol didalam bidang pekerjaanya. (Adni Hakim Nasution dalam S.C Utami Munadar, 1985:4).
Sedangkan Clark (1988:6) mengatakan bahwa murid berbakat ialah anak-anak yang menampilkan kapabilitas unjuk kerja yang tinggi dalam bidang-bidang seperti intelektual, krestif, artisti8k, kepemimpinan, kemampuan, atau lapangan-lapangan akademik tertentu, dan memerlukan, layanan-layanan atau kegiatan-kegiatan yang tidak bias di sediakan oleh sekolah dalam rangka untyk mengembangkan kemampuanny secara penuh.
Menurut skala yang dibuat oleh Wechsler, murid berbakat adalah murid yang memiliki taraf intelegensi 130 atau lebih, yang di bedakan atas luar biasa cerdas atau gifted (IQ 145 ke atas) dan sanagat cerdas atau superior (IQ 130-144). Yang banyaknya 2,5% dari banyaknya murid.
Berdasarkan uraian di atas jelaslah yang di maksud murid berbakat adalah murid yang memiliki taraf intelegensi sangat tinggi, dan kadang kemampuanya memungkinkan bagi dirinya berhasil dengan baik dalam pekerjaan atai karirnya. Murid seperti ini umumnya memerlukan program khusus yang terencana selain dari program umumnya biasanya di laksanakan di sekolahuntuk pengembangan kemampuanya.
2. Karakteristik Murid Berbakat
Murid berbakat umumnya memiliki karakteristik seperti di bawah ini:
a.       Memiliki kemampuan yang tinggi dalam biadang penalaran, berpikir abstrak, pengambilan dari kesimpulan fakta-fakta, memahami pengertian, dan melihat hubungan.
b.      Memiliki sifat rasa ingin tahu yang lebih besar.
c.       Cepat dan mudah menerima pelajaran.
d.      Memiliki minat yang lebih besar.
e.       Memilki ruang lingkup perhatian yang lebih luas yang memungkinkan mereka dapat memusatkan perhatian dan tekun dalam memecahkan persoalan-persoalan.
f.       Memiki perbendaharaan bahasa yang lebih banyak dan lebih baik dari pada murid-murid lain yang seusia dengan dirinya.
g.      Memiliki ikemampuan kerja mandiri yang efektif.
h.      Telah belajar membaca sejak sebelum masuk sekolah.
i.        Memiliki pengamatan yang lebih tajam dan lebih teliti.
j.        Menunjukan inisistivitas dan orisinalitas dalam kerja intelektual.
k.      Menunjukan ketajaman perhatian dan memberikan tanggapan cepat terhadap gagasan-gagasan baru.
l.        Dapat mengingat secara cepat.
m.    Memiliki perhatian yang besar terhadap sifat-sifat dasar manusia dan alam semsta (asal-usul, nasib, dan sebagainya)
n.      Memiliki daya imajinasi yang luar biasa.
o.      Mudah memahami petunjuk atau arahan yang kompleks.
p.      Cepat dalam membaca.
q.      Memiliki berbacam-macam hobi.
r.        Memiliki minat baca yabg besar yang memilki berbagai disiplin ilmu.
s.       Sering dan aktiof menggunakan perpustakan.
t.        Memilki kemampuan yang tinggi dalam Matematika, terutama dalam pemecahan masalah.
    1. Masalah Khusus Murid Berbakat
3. Masalah Khusus Murid Berbakat
Dilihat dari segi kemampuan yang di milikinya, Murid berbakat tidaklah merupakan murid yang bermasalah. Yang menjadi masalah adalah kemungkinan : 1) pengaruh yang timbul sebagai akibat dari kemampuan yang di milikinya, dan 2) keadaan perlakuan yang di terimanya dari guru tidak sesuai dengan keadaan dirinya. Hal ini misalnya di ungkapkan oleh Gertrude Hildreth (dalam raden cahaya prabu, 1982) yang menyatakan bahwa anak anak berbakat dengan IQ 175 banyak mengalami kesulitan dalam bergaul dan kurang dapat memanfaatkan kemampuannya, sehingga kuarang di hargai kawan-kawannya sebabnya. Begitu pula kesimpulan penelitian Holingwarth (dalam Raden Cahaya Prabu,1982) menyatakan anak-anak yang bertaraf intelegensinyalebih dari 180 mempunyai kesulitan dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.
Banyak pula dari murid-murid berikut itu yng pemalas, tidak sabar, pendiam, gelisah dan kurang memperhatikan pelajaran sekolah. Mereka sering menjadi biang keladi terjadinya masalah di dalam melas. Banyak pula yang di antaranya yang prestasi belajarnya rendah karena mereka kesal dan bosan mendengarkan pelajaran dari gurunya.
Sehubungannya dengan uraian di atas maka masalah yang mungkin dihadapi oleh  murid berbakat antara lain sebagai berikut :
a. Masalah pendidikan dan pengajaran
Dalam bidang pendidikan dan pengajaran murid berbakat dapat menyelesaikan tugas-tugas dengan lebih cepat dari pada teman-teman sekelas. Dengan demikian, murid berbakat memerlukan tugas tambahan yang terencana, dan juga memerlukan pendekatan lain yang berbeda dengan penbekatan yang lazimnya di lakukan di dalam kelas.
b. Masalah pribadi- kewajiban
      Murid berbakat, terutama yang kememampuannya luar biasa cerdas cenderung hanya mementingkan diri sendiri, perkembangan pribadinya tidak seimbang, senang menyendiri, sibuk melakuakn percobaan-percobaan sehingga sering lupadiri, dan sering melakuakn tindakan-tindakan yang mrlampaui batas (ekstrem).
c. Masalah sosial-kejiwaan
dalam bidang ini, anak berbakat cenderung tidak mudah bergaul, tidak mudah menerima pendapat orang lain
4. Cara Pengenalan Murid Berbakat
Murid yang berbakat di dalam kelas dapat di kenali debngan menganalisis hasil beloajar, pengamatan dan tes intelegensi.
Setelah melaksanakan kegiatan belajar-mengajar selama jangka waktu tertentu (catur wulan, semester) guru di harapkan selalu melaksanakan penilain hasil belajar. Nilai yang masing-masing di peroleh oleh murid di urutjenjangkan muali dari yang tinggi ke yang rendah untuk menentukan kedudukan murid di dalam kelas. Kegiatan ini di lakuakn untuk semua mata pelajaran. Dengan ini guru dapat mengenali murid mana yang hasil belajarnya sangat baik dari semua mata pelajaran. Kalau hanya sampai dalam tahap ini sudah tentu guru belum dapat memastikan apakah murid yng bersangkutan memeang seorang murid yang berbakat. Oleh sebab itu, data hasil murid itu harus di cocokan lagi dengan hasil pengamatan yang bekenan dengan cirri-riri atau karakteristik anak berbakat. Untuk lebih meyakinka, guru dapat meminta bantuan kepada hasil psikologi atau ahli bimbingan untuk mengukur inteligensi murid yang bersangkutan. Dengan memudahkan ketiga cara di atas maka guru dapat mengenali siapa murid yang berbakat di kelasnya.
5. Bimbingam murid berbakat
Program bimbiangan anak berbakat dapat di golongkan ke dalam bentuk sebagai berikut:
a.       Pengajaran Pengayaan, yaitu pembinaan murid dengan jalan penyediaan kesempatan dan fasilitas belajar tambahan yang bersifat pendalaman dan perluasan setelah murid menyelesaikan dsemua tugas yang di programkan untuk murid umumnya, termasuk murid yang brsangkutan. Kegiatan ini di lakukan dalam bentuk belajar mandiri ( idependent stady) antara lain mengadakna percobaan-percobaan di laboratorium, menjawab soal-soa, dan belajar di perpustakaan.
b.      Percepatan, yaitu cara pembinaan murid berbakat dengan memperbolehkannya naik kelas cara meloncat atau menyelesaikan program reguler dalam jangka waktu yang lebih singkat.
c.       Pengelompokan Khusus, yaitu sejumlah anak berbakat di kumpulkan dan di beri kesempatan untuk secara khusus memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan kemampuannya. Hal ini dapat di lakuakn secara penuh dan padat juga secara sebagian. Di katakana secara penuh kalau kelompok itu bersifat permanen, dan di katakana sebagian kalau kelompok itu hanya dalam mata pelajaran dan hari-hari tertentu saja.
C.     Murid Lambat Belajar
  1. Pengertian Lambat Belajar
            murid lambat belajar( slow learner) adalah urid yang intelegansi atau kemampuan dasarnya setingkat lebih rendah dari pada tingkat intelegensi murid normal. Menurut klsifikasi Terman, IQ anak lambat berkisar 70 sampai 90. Murid seperti ini tidak digolongkan sebagai murid yang memiliki keterlambatan mental karena dia dapat mencapai hasil belajar yang cukup memadai kendatipun pada tingkat yang lebih rendah dari pada murid-murid yang memiliki kemampauan normal atau sedang(Kirk , 1962). Dia dapat mengikuti pendidikan pada kelas-kelas biasa tanpa membutukan peralatan khusus, kecuali pengadaptasian program belajar dengan kemampuan yang dimilikinya.
Senada dengan uraian di atas, Transley dan R. Gulliford (1971: 4) medefinisikan murid lambat belajar adalah:
Murid-murid yang karena alasan-alasan kemampuan atau kondisi-kondisi lain yang tervatas mengakibatkan keterlambatan pendidikan, memerlukan bentuk pendidikan yang khusus, keseluruhan atau sebagian bersamaan dengan yang diberikan pada sekolah-sekolah.
Murid lambat belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a         Keadaan fisik pada umumnya sama dengan murid-murid normal. Dengan melihat keadaan fisiknya saja tidak dapat dibedakan mana yang normal dan mana yang lambat belajar. Para ahli baru dapat membedakan antara murid belajar dengan murid normal setelah menagdakan pengamatan dan tes psikologi.
b        Kemampuan berfikirnya agak rendah, sehingga lamban dalam memecahkan masalah-masalah yang sederhana. Hal ini menyebabkan mereka kalh bersaing dengan teman-temannya yang normal.
c         Ingatannya agak lemah dan tidak tahan lama. Mereka lekas lupa dan biasanya tidak mampu mengingat-ingat suatu peristiwa yang terjadi tiga tahun yang lewat. Dalam proses belajar mengajar di sekolah, apa yang diterangkan oleh guru hari ini biasanya satu minggu kemudian sudah terlupakan. Lebih lagi dalam mengingat-ingat isi buku pelajaran yang telah dipelajari sendiri. Kalau murid-murid normal dapat mengingat isi pelajaran lebih kurang 50% setelah membaca dua kali, maka murid lambat belajar hanya mampu mengingat 25% saja.
d        Dalam menuntut pendidikan di sekolah dasar banyak yang mengalami putus sekolah. Enam puluh persen di antara murid-murid yang putus sekolah tergolong murid yang lambat belajar. Lebih dari separoh nilai rapornya merah. Kalau guru mengeahui masalahnya dan selanjutnya memberikan bimbingan dan bantuan seperlunya maka putus sekolah 60% itu dapat dikurangi. Biarpun agak terlambat, mereka akan dapat menyelesaikan pendidikannya di sekolah dasar. Setelah tamat sekolah dasar, mereka dapat diarahkan untuk memasuki balai latihan atau sekolah kejuruan yang lebih singkat.
e         Dalam kehidupan di rumah tangga, murid lambat belajar masih mampu berkomunikasi dan bergaul secara baik dengan saudara-saudaranya. Mereka dapat belajar sendiri melakukan pekerjaan-pekerjaan dalam tata kehidupan keluarga.
f         Emosinya kurang terkendali, suka mementingkan diri sendiri. Inilah sebabnya mengapa sering timbul perselisihan dengan teman-temannya. Perasaan mudah terpengaruh oleh orang lain dan lingkungannya. Tidak mempunyai pendirian yang kuat.
g        Murid lambat belajar dapat dilatih beberapa macam ketrampilan yang bersifat produktif. Mereka mampu melakukan pekerjaan sendiri dengan tanggung jawab sepenuhnya.
  1. Cara pengenalan Murid lambat Belajar
            Sebagaimana murid lambat belajar perlu dikenali secara lebih mendalam dan menyeluruh. Dengan pengenalan yang mendalam itu akan memungkinkan guru dapat memberikan bantuan secara optimal.
      Pengenalan murid lambat belajar dilakukan antara lain meliputi:
a               Penilaian pendidikan. Penilaian ini diharapkan dapat memberiakn gambaran, tentang murid yang meliputi:
·         Prestasi belajar murid dalam mata pelajaran-meta pelajaran dasar, kesulitan-kesulitan yang dialami, bantuan yang pernah diterima.
·         Tingkat perkembangan bahasa dan pembicaraan murid.
·         Sikap sosial dan emosional murid di dalm dan di luar sekolah.
·         Minat dan sikap terhadap sekolah
·         Riwayat pendidikan sebelumnya, meliputi perubahan-perubahan sekolah dari kehadiran.
·         Minat dan latar belakang pengetahuan murid.
b              Pemerikasaan kesehatan yang meliputi keadaan kesehatan umumnya, penyakit yang pernah diderita, penglihatan, pendengaran, hidung, tenggoroakn dan sistem syarat.
c               Pemeriksaan psikologis, yang meliputi kualitas, berfikir, kekuatan0kekuatan dan kelemahan intelektual, sikap dan sifat-sifat pribadi lainnya.
d              Pengungkapan taraf perkembangan sosial murid, seperti suasana emosional, kesulitan-kesulitan yang dialami yang berpengaruh terhadap kemampuan belajar murid.
  1. Masalah Khusus Murid Lambat Belajar
            Sesuai dengan ciri-cirinya, masalah pokok yang dialami oalh murid lambat belajar adalah kelambatannay dalam belajar sebagai akinat dari keterbatasan kemampuan yang dimilikinya. Di samping itu, murid lambat belajar juga mengalami masalah peneyesuaian diri yang bersumber dari keadaan emosi yang kuarng terkendali, sehingga tidak jarang terjadi perselisihan denagn teman-teman.
  1. Bimbingan Anak Lambat Belajar
            Sebagaimana telah disinggung di muka bahwa murid lambat belajar dapat didik bersama dengan murid-murid yang normal, tetapi mereka tidak dapat diharapkan mencapai hasil belajar sebaik yang dicapai oleh murid-murid yang normal. Mereka kurang dapat berfikir secara abstrak. Oleh karena itu, bimbingan terhadap murid lambat belajar hendaklah selalu terkait dengan pengalaman nyata murid.
      Untuk mengatasi masalah yang dialami oleh murid lambat belajar, bebera[a bentuk bimbingan yang dapat diberikan adalah:
a         Menyediakan kesempatan belajar bagi murid sesuai dengan tingkat kemampuanya.
b        Membantu murid menerima dan menyesuaikan kemampuan mental yang dimilikinya.
c         Melatoh murid agar dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yamg sesuai dengan kemampaunya.

d        Mendorong murid mengembangkan sikap-sikap yang konstruktif terhadap kegiatan-kegiatan kerumahtanggan, sosial dan kewarganegaraan.

Sumber: ajengayuvindriatin.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s