Saran Guru untuk SNMPTN 2013

Mulai tahun depan, ujian tulis dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) akan resmi dihapus. Dengan demikian, SNMPTN bagi para calon mahasiswa hanya akan dilaksanakan dalam bentuk jalur undangan. Salah seorang guru SMAN 17 Jakarta, Suparman, menyambut baik usulan tersebut. “SNMPTN yang rencananya gratis tahun depan patut mendapat apresiasi,” tutur Suparman ketika dihubungi Okezone,Selasa (11/12/2012).

Meski mengapresisasi program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) itu, Suparman mengingatkan agar pemerintah juga memikirkan adanya program pendidikan tinggi gratis bagi mahasiswa tidak mampu. “Harus ada terobosan pemikiran untuk menggratiskan biaya kuliah di PTN supaya semua anak tanpa terkecuali dapat memperoleh haknya atas pendidikan,” paparnya.

Program beasiswa Bidik Misi yang diberikan oleh pemerintah bagi mahasiswa tidak mampu dengan prestasi cemerlang, lanjutnya, memang sudah sangat baik. Tapi, kata Suparman, para pelajar dengan kondisi ekonomi bawah dengan prestasi akademis pas-pasan pun terbilang banyak.

“Beasiswa untuk mahasiswa miskin memang bagus, tapi akan lebih konstitusional jika diberikan kepada semua anak miskin bukan hanya yang berprestasi saja yang dapat mengenyam pendidikan,” imbuh Ketua Umum Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) itu.

Pendapat serupa turut diungkapkan guru SMAN 6 Jakarta, Ratna. Dia menilai, program yang digadang pemerintah memang cukup baik karena dilihat dari segi efektif dan efisiensi biaya serta pemanfaatan Ujian Nasional (UN). Namun, lanjutnya, pemberlakuan program tersebut harus terus diawasi. “Sistemnya seperti apa. Jika sistem tidak bagus justru bisa merugikan siswa,” kata Ratna.

Dia menyebut, dalam pelaksanaan program tersebut, terdapat poin-poin yang perlu perhatian. Pertama, jelasnya, penilaian terhadap kemampuan siswa tidak hanya melalu hasil akhir.

“Itulah mengapa saat ini digalakkan pendidikan karakter. Sebab selama ini penilaian dititikberatkan pada hasil akhir, yakni UN. Sehingga siswa lebih berat ke kognitif, tidak pada bidang lainnya,” ungkapnya.

Kedua, tambahnya, setiap perguruan tinggi tetap harus mengadakan tes terhadap kemampuan para peserta. Sebab, kata Ratna, setiap anak memiliki kemampuan berbeda. Demikian pula dengan kompetensi calon mahasiswa yang dicari perguruan tinggi.

“Tingkat kemampuan anak SMA dengan kebutuhan perguruan tinggi tidak semuanya sesuai. Makanya tetap perlu ada tes. Karena ada perguruan tinggi yang mencari kualitas dan ada pula yang sekadar memenuhi kuantitas,” tuturnya. (kampus.okezone.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s