Plus Minus Full Day School

Tahun ajaran baru 2014/2015 baru saja dimulai, banyak diantara siswa Bimbel-Les Privat BATASA yang bersekolah di Full day school. Nah bagi sobat BATASA yang belum mengetahui ruang lingkup Full day school, kami sampaikan gambarannya sebagai berikut. Full day school merupakan sebutan untuk sekolah-sekolah yang menerapkan pembelajaran selama sehari penuh layaknya waktu seorang pekerja.

Daftar Bimbel

Sekolah tersebut menerapkan kurang lebih 8 jam belajar dalam sehari, yakni mulai dari jam 07.00 WIB sampai dengan jam 15.30 WIB. Selain materi pelajaran sebagaimana yang telah ditetapkan departemen pendidikan nasional, para siswa juga dibekali pendidikan akhlak dan keterampilan hidup (life skill). Harapannya tidak lain adalah kelak di kehidupan yang nyata, mereka dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi sesamanya dengan menerapkan ilmu pengetahuan, budi pekerti, dan bagaimana menjadi sosok sosial  yang  baik.

Istilah full day school sudah tidak asing lagi didengar khalayak, terutama pada tujuh lima tahun terakhir ini. Bermunculan sekolah-sekolah yang menerapkan sistem pembelajaran seperti itu, termasuk yang berada di jenjang sekolah menengah. Di antaranya, SM Al Firdaus, SMP Al Azhar, SMPIT Nur Hidayah yang berada di wilayah eks karesidenan Surakarta.

Banyak keuntungan yang bisa diraih ketika seorang anak belajar di full day school. Dari pihak siswa, selain mempunyai kepandaian secara materi layaknya siswa dari sekolah yang non full day school, dia juga mendapatkan materi serta praktik sekaligus dalam hal agama dan budi pekerti lainnya, serta mendapatkan berbagai keterampilan-keterampilan yang mungkin tidak didapati dari sekolah konvensional misalnya kewirausahaan, kepribadian dan lain sebagainya. Orang tua yang mempunyai pekerjaan di luar rumah dan waktu bekerja dari pagi sampai sore, sangat terbantu dengan adanya sekolah ini. Kerja OK, anak jalan. Maksudnya, pekerjaan dapat mereka tekuni dengan baik tanpa mengurangi hak anak untuk memperoleh pendidikan yang baik. Jika di sekolah konvensional yang menerapkan jam sampai siang, anak-anak dengan bebas berkeliaran tanpa pengawasan yang baik dari orang tua. Sedangkan jika di full day school, anak-anak pulang sore berbarengan dengan waktu orang tua pulang kerja. Pagi ketika berangkat kerja, sekalian mengantar anak ke sekolah. Sorenya ketika pulang kerja, sekalian menjemput anak dari sekolah.

Kemudahan-kemudahan dan kenyamanan tersebutlah yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat terutama mereka yang berasal dari golongan ekonomi ke atas, terutama yang bekerja di luar rumah. Mereka berbondong-bondong memasukkan anak-anak mereka ke sekolah tersebut, dengan salah satu alas an lainnya yakni biar mudah mengontrol anak. Dipermudah lagi dengan kemajuan teknologi. Mereka tidak perlu repot-repot datang ke sekolah hanya untuk membayar biaya sekolah maupun mengecek anak mereka. Banyak bank yang sanggup melayani orang tua yang ingin membayar sekolah anaknya, yakni dengan model transfer. Orang tua tinggal menelepon bank langganannya lewat telepon kantor, dan meminta bank tersebut untuk mentransfer sejumlah uang kepada rekening sekolah yang mendidik anaknya. Bisa juga dilakukan melalui fasilitas internet, yang sekarang ini sangat memudahkan pekerjaan seseorang. Ketika anak tidak masuk karena suatu hal, orang tua tidak perlu repot-repot membuat surat atau datang ke sekolah. Tinggal telepon saja ke sekolah dan selesai urusan. Konsultasi dengan wali kelas pun dapat dilakukan melalui telepon atau e-mail yang sekarang sudah lazim dilakukan. Teknologi memang sangat membantu. Selain praktik, efektif, dan hasilnya lebih cepat diperoleh.

Tak ada gading yang tak retak. Ungkapan tersebut juga berlaku bagi sekolah yang menerapkan sistem full day. Berbagai kelebihan yang telah penulis ungkap di atas, ternyata sekolah dengan sistem ini pun memiliki beberapa kekurangan. Bermain merupakan kodrati setiap anak, bahkan menjadi kebutuhan rohani setiap individu. Bagi siswa, sekolah yang sampai sehari penuh mengurangi waktu mereka untuk bermain dan menyosialisasikan pribadi mereka. Ketika sampai di rumah sudah sore, badan capek, sehingga tidak sempat berkunjung ke rumah teman untuk bermain. Hal tersebut mengakibatkan kurang terlatihnya jiwa sosial terhadap lingkungan rumahnya, karena teman yang dimilikinya hanyalah teman di sekolah. Selain itu, mereka kurang tanggap terhadap lingkungan. Setelah pulang dan sampai di rumah, jarang keluar rumah. Jika keluarpun, jauh dari lingkungan rumah. Mungkin rumah pak RT pun mereka tidak tahu. Hal ini  pernah dialami olah siswa saja. Sebut saja Arina. Suatu hari dia mendapatkan tugas dari guru Biologinya untuk mendata tingkat populasi penduduk di lingkungan rumahnya (satu RT). Ketika ditanya gurunya tentang nomer RT, rumah pak RT, dan nama pak RT dia tidak bisa menjawab. Tugas itupun dijadikan Pekerjaan Rumah (PR). Sesampainya di rumah, dia bingung lagi mau tanya siapa. Teman tetanggapun tidak punya. Akhirnya dia mengajak pembantunya pergi ke rumah pak RT dan menyelesaikan tugasnya. Ironis bukan?!

Anak cenderung kurang bisa mandiri. Hal ini banyak dialami oleh siswa yang berstatus anak tunggal dan orang tuanya sibuk bekerja. Mereka akan cenderung susah merasakan perjuangan, setia kawan, karena memang apa pun yang diminta pasti diperoleh dengan mudah. Hal tersebut mengakibatkan anak akan selalu “nggampangke” terhadap sesuatu dan kurang bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu. Buruknya, hal tersebut terus dilakoni sampai pada jenjang kehidupan selanjutnya, kuliah, bekerja, dan seterusnya. Jika anak memiliki komunitas yang seusia dengannya, dia akan terlatih kemandiriannya. Contoh, dia akan malu diejek temannya karena kamarnya tidak rapi, sehingga mau tidak mau dia harus belajar menata kamarnya.

Anak cenderung tertutup dan jauh dari orang tua secara psikologis. Kondisi ini dapat diakibatkan oleh orang tua yang lelah bekerja, sehingga enggan untuk berinteraksi secara pribadi dengan anaknya. Pulang kerja ya capek terus istirahat. Anak yang mungkin ingin menceritakan sesuatu kepada orang tuanya mengenai apa yang ia pikir, apa yang ia rasa tidak mendapatkan wadahnya. Oleh karena itu, mereka mencari sesuatu yang bisa “memuaskan” hasratnya. Face book, twitter, chating, browsing, dan fasilitas internet lainnya yang mampu menampung aspirasi si anak, akan menjadi teman favorit baginya. Bahkan mereka betah untuk duduk di depan komputer maupun memencet tombol Hand phone mereka semalaman bahkan seharian. Itu menyebabkan anak akan terlalu asyik dengan dunia maya sehingga lupa dunia nyatanya. Dia akan lupa makan, lupa ibadah, lupa mandi, lupa belajar dan sebagainya. Selain itu, anak-anak juga rentan terhadap penyakit, karena badannya kurang bergerak.

Berbeda jika orang tua berkenan meluangkan waktunya untuk menerima “curhatan” anaknya.  Memang capek, tapi secara hati orang tua akan dekat dengan anaknya sehingga si anak merasa nyaman dan diperhatikan. Itu akan sangat mempermudah orang tua untuk mengarahkan anaknya dalam bertindak. Apalagi di tengah kehidupan masyarakat yang sangat rentan “kenakalan” seperti sekarang ini. Anak punya hobi membolos, keluyuran, pacaran diakibatkan karena kurang dekatnya jiwa/hati anak-anak dengan orang tuanya.

Orang tua yang merasa telah membayar mahal untuk menyekolahkan anaknya di sekolah full day, cenderung “pasrah bongkokan” kepada sekolah. Mereka percaya penuh kepada sekolah mengenai masa depan anaknya, tanpa harus repot memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk buah hatinya. Mereka menganggap bahwa jika anak sudah seharian penuh di sekolah, berarti menjadi tanggung jawab sekolah. Mereka mau nakal atau tidak, bukan urusan mereka. Biarkan sekolah yang menyelesaikan. Mereka tahunya, anak mereka adalah anak yang manis seperti halnya di rumah. Padahal ketika di sekolah, dia melakukan hal-hal yang tidak pernah dilakukan di rumah. Hal itu mengakibatkan orang tua tidak percaya jika anaknya dikategorikan “nakal”. Pihak sekolahpun akan kesulitan membawa anak ke jalan yang benar. Seberapa keraspun usaha sekolah untuk memberi hukuman kepada si anak, tidak akan mempan. Bahkan sekolah akan menuai protes dari pihak orang tua, jika anaknya dihukum ataupun diskor. Akibatnya, anak merasa dilindungi dan akan mengulangai perbuatan “nakal”nya bahkan dengan tingkat yang lebih tinggi. Bahayanya lagi, perbuatannya akan ditiru oleh siswa yang lain di sekolahnya.

Memang tidak ada yang sempurna, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Apapun itu, yang namanya institusi pendidikan pastilah mempunyai tujuan yang mulia yakni mencetak pribadi seseorang yang lebih baik dan memberikan bekal untuk kehidupannya siswanya kelak. Setiap penyakit pasti ada obatnya. Demikian juga masalah, pasti ada solusinya. Jika ada niat dan kerja sama  yang baik dari berbagai pihak yakni siswa, orang tua, dan sekolah, pastilah masalah-masalah yang dialami di full day school akan dapat terselesaikan dengan baik.

OLeh: Fatimah, S.Pd. (trainer Fataha etc) | fatahasolo.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s