Peran Orangtua & Sekolah Penting Dalam Optimalkan Bakat Anak

Setiap anak memiliki bakat dan potensi yang dimilikinya. Peran orang tua diperlukan dalam memberikan lingkungan yang tepat dan sekolah yang mampu mengoptimalkan bakat serta potensi anak.

Direktur Akademik SPM, Yenny Chandra mengatakan, penting menyiapkan anak didik untuk bisa adatif dan berperan dalam masyarakat.

“Pada siswa-siswa bisa dikembangkan nilai-nilai ini melalui program-program sekolah,” jelas Yenny.

Ia mengatakan, ada banyak contoh kasus “turnaround” murid-murid di sekolah yang menyediakan kelas mulai dari TK hingga SMU. Menurutnya, penting juga peran sekolah dalam pengembangan diri siswa secara umum seperti prinsip 7 Habits of Highly Effective People (7 Habits) yang diciptakan oleh Stephen R. Covey, seorang ahli pendidikan.

“7 Habits sendiri awalnya adalah prinsip pengembangan diri secara umum, namun kemudian diadopsi menjadi prinsip pembelajaran holistik di dunia pendidikan,” katanya.

Pertama, be proactive, bertanggung jawab saat mengambil inisiatif untuk melakukan hal yang benar. Kedua, begin with the end in mind, prinsip yang berguna untuk merencanakan kedepan dan menetapkan tujuan, karena pilihan yang tepat dapat menyebabkan kesuksesan

Ketiga, put first things first, yaitu mengerti bagaimana mengatur prioritas. Keempat, think win-win dengan menyeimbangkan kebutuhan semua orang dalam konflik sambil mempertahan kan kebebasan individu. Kelima, seek first to understand then to be understood, yang secara sederhana berarti keingina nuntuk mendengarkan dan bersikap hormat terhadap orang lain. Keenam, synergize atau membentuk sinergi melalui pembiasaan team work. Ketujuh, sharpen the saw, artinya merawat tubuh, pikiran, hati dan jiwa seseorang melalui persahabatan dan interaksi.

Ia mencontohkan, SPM tidak hanya memfokuskan untuk membentuk siswa-siswi menjadi pemimpin dengan mengaplikasikan 7 Habits di dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, tetapi juga dalam kegiatan-kegiatan lain dan kehidupan sehari-hari di sekolah. Contohnya seperti, live in experience atau kegiatan dimana siswa siswi tinggal dengan komunitas atau suku Badui sehingga mereka dapat mengenal budaya baru dan belajar bersosialisasi.

“Atau kegiatan lain seperti learning exhibition,yaitu event tahunan dimana para siswa memamerkan proyek-proyek dan analisa mereka di sekolah kepada publik, dan publik boleh memberikan pertanyaan-pertanyaan seputar proyek dan pembelajaran mereka di sekolah,” tuturnya. (Sumber: news.okezone.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s