Solusi Jika Si Kecil Tidak Naik Kelas

Sebentar lagi musim kenaikan kelas dan pastinya kita sebagai orangtua akan merasa senang jika sang buah hati bisa naik kelas apalagi bisa berprestasi di sekolahnya. Namun bagaimana jika anak kita tinggal kelas alias tidak naik kelas. Banyak faktor yang bisa menyebabkan anak kita tidak naik kelas bunda. Oleh karena itu, yuk simak tips dibawah ini mudah-mudahan bisa menjadi solusi khususnya bagi para bunda yang buah hatinya tidak naik kelas.

Bagi saya waktu penerimaan rapor sejak saya sekolah dulu, sampai sekarang saat anak saya sudah SD jadi waktu yang menegangkan. Pasti malu kalau sampai nggak naik kelas.

Tapi sekarang saat menjadi orang tua saya mencoba memahami bahwa ketika anak nggak naik kelas, maka itu bukan sepenuhnya kesalahan anak. Ya, saat anak nggak naik kelas bukan berarti bahwa dirinya bodoh.

Saat menjadi orang tua, saya mencoba mengerti bahwa tinggal kelas bukanlah aib atau bencana, Bun. Sebab nyatanya tinggal kelas adalah konsekuensi dari hasil perbuatan.

Dalam psikologi pendidikan, anak yang tinggal kelas tergolong sebagai anak yang tidak terpenuhi kebutuhannya atau underachiever. Kata pakar pendidikan terkenal, Prof Dr Conny Semiawan, anak underachiever itu dalam kesehariannya memang kurang mendapat pengarahan sesuai kebutuhannya.

Laporan penelitian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kongres PGRI XVII menyatakan angka tinggal kelas di SD cukup tinggi, Bun. Kelas 1 sebanyak 16,7% ; kelas 2 sebanyak 12,4%, kelas 3 sebanyak 10,6 %. Sebagian besar anak yang tinggal kelas ternyata kecerdasan intelektualnya tidak di bawah rata-rata.

Jadi kalau ada yang mengatakan, anak yang nggak naik kelas itu bodoh, itu salah Bun. Banyak faktor yang membuat anak nggak naik kelas.

Situs keepkidshealthy.com menuliskan ada faktor-faktor yang bisa menjadi penyebab anak tinggal kelas. Misalnya saja cara belajar anak yang kurang tepat, IQ kurang, standar sekolah terlalu tinggi, problem keluarga, tertekan karena lingkungan sekolah, atau sakit terlalu lama sehingga ketinggalan pelajaran.

Kalau anak tinggal kelas, maka sebagai orangtua ada beberapa hal yang perlu kita lakukan, Bun

1. Tetap Positif

Anak yang tinggal kelas sebaiknya jangan sampai merasa terpojok Bun. Soalnya bagi dirinya, hal itu sudah menjadi pukulan baginya.

Rasa malu takut dicap bodoh, sedih karena nggak bisa sekelas lagi dengan teman-temannya, serta tekanan dari keluarga bisa berdampak secara psikologis, Bun. Nah, orang tua bertugas memotivasi anak agar dirinya tetap positif.

Kata Jim Taylor, seorang konselor di sekolah selama 20 tahun yang juga penulis, agar anak tetap positif, terlebih dahulu orang tua harus lapang dada. Ya, ketika anak nggak naik kelas, jangan sampai kita cuma sekadar menyalahkan anak tanpa mau introspeksi diri.

2. Dialog dengan Guru

Saat anak tidak naik kelas tentunya jadi pelajaran, dan semua pihak nggak mau lagi terulang. Untuk itu, orang tua perlu berbicara ke guru untuk mencari tahu penyebab anaknya tidak naik kelas.

Diskusi ataupun berdialog dengan wali kelas atau guru BP penting untuk perkembangan belajar anak setelah masuk sekolah. Untuk ke depannya, ada baiknya kita melakukan pertemuan secara berkala dengan guru, Bun.

3. Bakar Semangatnya

Kecewa itu pasti ada ya, saat anak nggak naik kelas . Tapi, sebagai orangtua sebaiknya jangan menunjukkan rasa kecewa dengan emosional.

“Bangkitkan motivasi dan rasa percaya diri anak. Lakukan dialog dari hati ke hati dengan anak agar ia tetap merasa bahwa orang tua tetap menyayanginya,” saran Jim.

Bakar semangat anak dengan mengatakan, “Bunda dan ayah percaya kamu tidak bodoh dan tahun ajaran mendatang bisa lebih bagus nilainya. Jangan khawatir, nanti bunda dan ayah bantu kamu belajar,”.

Cara seperti ini diyakini akan membuat anak percaya diri. Oya, kalau tinggal kelas biasanya anak ingin pindah sekolah, Bun. Tapi, kira-kira itu perlu nggak? Menurut buku ‘Parents Guide Growing Up Usia 7-9 Tahun’, memindahkan sekolah itu bisa dilakukan jika standar di sekolah sebelumnya terlalu tinggi untuk kemampuan anak.

Selain itu, lihat juga kondisi anak. Kalau anak sudah bisa bersosialisasi dengan lebih baik atau jadi giat belajar, tak perlu pindah sekolah Bun. Tapi kalau anak jadi pemurung, prestasinya juga tidak membaik, mungkin pindah sekolah bisa dipertimbangkan. Bisa juga dengan alternatif, anak pindah sekolah tapi tetap nggak dinaikkan kelasnya. (Nurvita Indarini) | haibunda.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s